Tataa Chubby, Dewan Pers dan Etika Jurnalistik

Pembunuh Tataa Chubby

Hari-hari ini pemberitaan diwarnai kasus pembunuhan Tataa Chubby. Yang paling getol memberitakan adalah media-media online. Tak hanya media-media online besar seperti Detik atau Kompas. Media-media baru yang cukup agresif seperti Merdeka atau Suara juga tak ketinggalan memberitakan kasus PSK yang dibunuh pelangannya itu. Sayang, media-media seperti biasanya kerap melupakan etika jurnalistik.

Hal ini membuat Dewan Pers risau. Setidaknya kerisauan itu disuarakan oleh salah satu anggota dewan pers melalui aku facebooknya. Yosep Stanley Adi Prasetyo menulis: Sebagai anggota Dewan Pers, saya imbau semua liputan terkait Deudeuh Alfisahrin alias Tataa Chubby kembali mengacu pada etika. Pemberitaan 3 hari terakhir ini sudah melanggar batas etika. Foto almarhum diambil dari media sosial dan diumbar, ketika almarhum sudah ada di liang lahat wartawan menuliskan tentang profesi dan aibnya, keluarga almarhum diekspos dengan menampilkan wajah mereka serta ditanya tentang profesi yang jadi aib keluarga, twitter cara almarhum menjual jasa juga dibedah dan dikutip secara telanjang, pengakuan pelaku ketika membunuh juga diungkap secara detil. Saya ingatkan semua media untuk menahan diri. Kalau masih berlanjut Dewan Pers akan memanggil kalian. Mohon kepada masyarakat yang menilai pemberitaan sudah melanggar etika untuk mengadukanya ke Dewan Pers dengan mengirimkan email, surat atau pengaduan langsung dengan melampirkan bukti berita yang dinilai melanggar ke : sekretariat@dewanpers.or.id

Yang menjadi persoalan, apakah imbauan Dewan Pers ini akan efektif? Saya kira, lagi-lagi, kita dihadapkan pada bagaimana literasi media dipahami dan “diamalkan” oleh pembaca/konsumen media. Dalam arti, kepedulian tentang sebuah media yang beretika tak hanya menjadi pemahaman saja. Tapi memang perlu terus melibatkan publik untuk berperan aktif mewujudkannya. Nah, bagi Anda yang keberatan tentang pemberitaan yang ada, dan akan ikut serta berperan konkrit dalam mewujudkan media yang beretika, silakan kirim aduan pada email yang disebutkan anggota dewan pers tersebut. Tentu saja, untuk kasus-kasus lain kita juga bisa melaporkan pemberitaan-pemberitaan yang tak beretika, juga melanggar kode etik jurnalistik yang semestinya dimiliki wartawan melalui saluran email itu. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.