Stop Stigma Wahabi !

kolom

Stop Stigma Wahabi !
Oleh:Yons Achmad

Apa stigma paling gampang disematkan kepada mereka yang militan dan sedang semangat-semangatnya dalam berIslam? Ya benar, Wahabi, dasar Wahabi. Cirinya, dikatakan, intoleran, suka mengkafirkan orang lain, suka mengkritik atau memberontak kepada pemerintahan. Konkritnya, stigma Wahabi ini sering disematkan kepada alumni anak-anak masjid kampus. Yang sekarang aktif di partai maupun profesional lainnya. Stigma yang tentu saja sungguh konyol.

Siapa yang sering berikan stigma Wahabi ini? Tanpa saya sebut kelompoknya, semua orang juga tahu. Sementara, saya juga pernah bertanya kepada seorang mantan jenderal angkatan darat. Beliau semasa aktif berdinas tukang nangkepin aktivis-aktivis yang dinilai “Garis Keras”. Saat saya tanya “Pak apa PKS itu Wahabi?” “Jawabnya “Iya, tapi Wahabi yang soft”. Waduh. Sampai di sini saya mulai berpikir.

Stigma ini saya kira problematis. Bahkan saya yakin, mereka yang diberi stigma demikian tak pernah mengerti apa itu Wahabi. Saya memang tak begitu bersentuhan dengan elit-elit PKS. Yang saya tahu hanya kegiatan-kegiatan “kecil” mereka. Misalnya, sebelum puasa, berikan layanan kesehatan gratis (cek gula darah, tensi dll), adakan bakti sosial (baksos) dengan menjual makanan dan pakaian murah layak pakai. Sementara, shalat jamaah mereka juga rajin-rajin. Kepedulian mereka terhadap tetangga terdekat? Tak perlu diragukan lagi.

Melihat fakta demikian, saya kadang tak mengerti, apa maunya mereka yang suka berikan stigma wahabi ini? Sampai kemudian, saya berkesimpulan, bahwa hal itu semata-mata karena ketidaksukaan mereka saja. Seperti ketidaksukaan tokoh ormas Islam di negeri ini yang menyebut Habib Rizieq Shihab sebagai contoh ulama yang buruk. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Tapi, itulah yang saya tahu dari pemberitaan media ketika mengomentari 200 ulama yang direkomendasikan oleh Kemenag.

Itu sebabnya, daripada ribut-ribut beri stigma tentang Wahabi, mendingan kembali melongok kepada diri. Kurang elok terlalu membanggakan bahwa diri dan kelompoknya menguasai ilmu agama yang tinggi, bisa bahasa Arab, tapi masih suka berikan stigma yang tak berdasar. Alih-alih juga meributkan misalnya banyak kantor dan masjid-masjid BUMN yang ditengarai diisi oleh penceramah-penceramah yang dinilai intoleran, bukankah lebih baik ikut terjun langsung kembali balik ke masjid-masjid, bisa nggak menjadi pengurus masjid yang diterima dengan baik oleh jamaahnya?

Tak perlu adu ilmu, adu kuat bahasa Arab. Kadang , justru pencerahan Islam itu datang dari mereka yang ilmunya biasa-biasa saja. Tapi, dengan tulus memberikan pencerahan kepada umatnya dari hati ke hati. Hasilnya? Banyak jamaahnya yang rela berhijrah. Menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Masjid-masjid masih banyak yang belum terurus dengan baik. Pertanyaan kecil kepada mereka yang suka sekali teriak Wahabi, sudahkah satu saja berhasil mengurus masjid?

Tentang keberhasilan mengurus masjid sendiri, saya teringat wejangan Gus Reza Syarif. Bahwa umat Islam itu kadang memang hanya baru bisa membangun masjid (level 1). Kemudian, pelan-pelan memakmurkan masjid (level kedua), kemudian, yang paling unggul tentu saja bisa memakmurkan jamaah masjid (level ketiga). Nah, daripada mulut capek teriak-teriak Wahabi, dasar Wahabi, mending kembali ke masjid. Makmurkan masjid, makmurkan jamaah. Begitu saudaraku. Maaf. []

*Direktur Kanet Indonesia.