Stop Komunikasi Provokatif

Kolom

Seorang pejabat, tepatnya seorang menteri bilang di media “Jangan macam-macam kalau tak mau berurusan dengan polisi”. Apa kesan Anda ketika mendengar atau membaca pernyataan itu? Jelas, kesan yang muncul adalah nada ancaman.

Masalahnya sekarang, apakah ada seseorang yang suka diancam-ancam? Jawabnya adalah tidak. Jadi, model dan gaya komunikasi semacam itu sangat tidak efektif. Sebuah gaya dan model komunikasi warisan orde baru yang sudah seharusnya ditinggalkan.

Bentuk komunikasi demikian adalah komunikasi provokatif yang membahayakan. Kenapa? Bisa diterjemahkan oleh aparat sebagai legitimasi melakukan kekerasan kepada masyarakat.

Padahal, dalam komunikasi, tujuan utamanya adalah kesepahaman bersama (mutual understanding). Dalam kehidupan kenegaraan, komunikasi yang main ancam itu hanya membuat masyarakat semakin kesal dengan pemerintah. Masyarakat semakin tak suka kepada pemerintah.

Hasilnya apa? Bukan sinergi yang didapatkan, tapi justru memperpanjang jarak antara rakyat dan pemerintah. Ketika hal ini terus berkembang bahkan terus dibiakkan, maka semakin banyak rakyat yang bakal berseberangan dengan pemerintah.

Lantas, apa komunikasi yang kemudian perlu dikembangkan? Tak lain adalah komunikasi empatik. Pemerintah lebih banyak mendengar suara rakyat. Bahkan suara kritis paling tajam sekalipun.

Rakyat memang juga punya banyak keinginan. Tapi, apa keinginan paling mendasar yang diharapkan? Satu saja. KESEJAHTERAAN. Jadi, percuma main ancam kalau kesejahteraan tak diprioritaskan. []

Salam
Yons Achmad
Praktisi Komunikasi Strategis
Founder Kanetindonesia. Com
WA: 082123147969