Spirit Reuni 212

kolom

Spirit Reuni 212
Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis. CEO Kanet Indonesia)

“Semua orang mampu merusak kebun bunga,
Tapi tiada seorangpun sanggup menunda musim semi”

(Nuim Hidayat dalam sampul buku Dakwah Islam)

Saat peserta reuni 212 bershalawat bersama, tak kuasa air mata menetes.  Bahkan itu bukan di area Monas tempat berlangsungnya acara reuni akbar 212. Tapi di stasiun Juanda, Jakarta. Ya, kami sekeluarga yang datang memang tak bisa menuju Monas, sudah penuh, kami datang terlambat. Hanya bisa menikmati cerita ukhuwah yang sedikit saja. Tapi, bagi keluarga kecil saya, itu sudah cukup untuk sekadar belajar bagaimana Islam mengajarkan banyak hal.

Getarah ruhiyah, cerita ukhuwah dan eratnya persaudaraan sesama muslim itu memang akan sangat terasa jika kita datang ke sana. Tak hanya sekadar membaca berita, menyaksikan foto-foto dan menikmati video yang tersebar di sosial media.  Terasa ada nuansa yang berbeda ketika kita benar-benar menghadirinya. Dan, setiap orang yang datang pasti punya cerita sendiri. Yang pasti hadir ke acara reuni akbar 212 ini tak akan pernah sia-sia.

Spirit besar dari acara itu saya kira satu saja. Semangat membela agama, semangat membela Islam. Memang, ada seorang tokoh ternama di negeri ini, yang di PHP, dijanjikan jadi Wapres tapi gagal. Mengatakan bahwa, datang atau tidak di acara reuni 212 itu tak ada kaitannya dengan persoalan iman. Bagi saya dan keluarga, tidak demikian. Bagi kami, berkumpul dengan orang-orang baik, bersilaturahmi semata-mata untuk menjalin ukhuwah, otomatis mempertebal iman. Belum lagi, kebaikan-kebaikan yang menyertai kemudian. Jadi, bagi kami, kedatangan ke reuni 212 dengan niat baik, tulus, juga sebuah ikhtiar tersendiri yang menjadikan keimanan semakin bertambah.

Bagi kami, momentum reuni 212 adalah peristiwa sejarah. Setidaknya, kelak kami bisa berbagi cerita dengan anak-anak bahwa kita juga turut serta dalam sejarah itu. Tak hanya duduk di rumah, menyaksikan peristiwa besar itu di depan layar televisi. Tentu saja, kami  juga tak bermaksud mengecilkan mereka yang belum berkesempatan hadir karena beragam alasan. Yang pasti, spirit yang sama tetap di dada. Membela agama.

Terkait spirit membela agama, memang banyak yang nyinyir juga. Gus Dur bahkan dulu pernah bilang  dan meluncurkan buku yang berjudul “Agama Tak Perlu Dibela”.  Dan  sekarang banyak pula yang berpendapat demikian. Tapi, keluarga kami bukan “pemuja”  buta Gus Dur. Jadi,  kami tak sependapat dengan pernyataan demikian.

Kenapa? Kita coba buka Surat Muhammad ayat 7 dalam Al-Quran, dengan tegas menyebutkan “Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Tentu, dengan kejelasan demikian, saya tak punya alasan untuk memutarbalikkan tafsir. Kenapa? Ayatnya sangat mudah dipahami, terang benderang. Jadi untuk apa memaksakan pendapat sendiri?

Dan, hanya umatnya yang bakal membela Islam, membela agamanya. Itupun, hanya orang-orang pilihan saja. Harapan kecil  yang terselip, semoga keluarga kami tercatat sebagai orang-orang yang berusaha membela agamaNya.  Karena, kalau bukan kita, umatnya yang membela, siapa  lagi?

Esok harinya saya baca halaman pertama Koran Kompas. Tak ada berita reuni 212 itu. Artinya apa?  Kembali  kita perlu tegaskan, apa boleh buat, memang kita sendiri yang mesti peduli terhadap umat ini. Bukan “Liyan”.  Biarkan Kompas mengecilkan sejarah. Tapi, umat ini, seperti spirit bela agama dalam reuni 212, harus terus melangkah dengan gagah. []