Solusi Alternatif Tangkal Hoaks

Kolom

Kalau engkau mendalami satu bidang ilmu
Engkau akan kekurangan dalam bidang ilmu lain
Kalau engkau menekuni hanya satu bidang ilmu
Engkau tak akan menguasai yang lain
Bila engkau tak menguasai satu pun bidang ilmu
Siap-siaplah untuk dikuasai orang lain

(Ibnu Hamad)

Kata-kata Sang Profesor Ilmu Komunikasi UI itu saya kutip dari disertasi yang dipersembahkan untuk anak-anaknya. Seorang profesor “Termiskin” di Indonesia. Seperti pengakuannya dalam sebuah diskusi yang pernah saya hadiri. Tentu ini becandaan saja. Nama saja tidak punya. Ibnu Hamad, anak (laki-laki) Hamad. Jadi, “What is your name?” kelakarnya menjawab “keanehan” namanya sendiri.

Kata-kata itu saya temukan saat mencari referensi untuk riset kerjaan. Memang, saya tentu berkepentingan untuk membaca disertasinya yang berjudul “Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa” itu. Tapi, kali ini saya tak akan cerita tentang isi disertasinya. Saya hanya sedang berpikir, sayang kalau diabaikan begitu saja kata-kata inspiratif itu. Jadi, ijinkan saya sedikit mengulasnya.

Saya setuju dengan kata-kata itu. Khususnya perihal pentingnya kuasai setidaknya satu ilmu agar tak dikuasai orang lain. Apalagi, diera sekarang ini di mana informasi yang keliru, berita bohong (hoaks) menjadi sesuatu yang sering kita temukan begitu saja, bahkan tanpa kita sadari, kita menjadi korban hoaks dan bisa jadi penyebar hoaks sekaligus. Kenapa ini bisa terjadi? Lagi-lagi kita mungkin tidak cukup ilmu untuk membaca, mencermati informasi yang ada.

Atau mungkin kita malah memang tak punya pemahaman yang cukup tentang hoaks itu sendiri. Kalau kita cermati, hoaks diambil dari bahasa Inggris hoax, menjadi kata yang sering kita dengar sekarang ini. Hoax menurut Cambridge English Dictionary berarti “sebuah rencana membohongi seseorang”. Kamus Merriam Webster mendefinisikan hoax sebagai “tindakan yang ditujukan untuk melakukan muslihat”. Kedua kamus menyebutkan hoaks adalah suatu tindakan yang direncanakan untuk mengatakan kebohongan atau melakukan muslihat yang menyebabkan pihak lain memercayai tindakan atau informasi yang disampaikan. Begitulah hoaks, jadi tak hanya sekadar diartikan sebagai kabar bohong semata.

Bekerjanya hoaks bisa kita lihat setidaknya dua sisi. Misinformasi (informasi yang salah dan yang membagikannya percaya itu benar). Hal ini tentu disebabkan karena tak cukup ilmu (informasi) terkait dengan kebenaran. Disinformasi (tahu informasi salah tapi tetap membagikannya). Keduanya tentu modus hoaks. Tapi, tentu motif disinformasi yang perlu kita sorot lebih tajam, karena pelaku demikian memang tidak peduli kebenaran, motif kepentingan pribadi atau kelompok lebih menonjol. Lantas, bagaimana solusinya?

Cara paling mudah dan “bodoh” tangkal hoaks adalah dengan blokir, sensor sampai mematikan misalnya internet agar media sosial tidak biasa diakses. Ini cara pemerintah yang tak mau sedikit bersusah-payah dalam bekerja. “Coro bodon,” kata orang Jawa.

Tapi, bagi saya, cara yang paling efektif tangkal hoaks adalah dengan literasi (media & digital), basisnya banyak. Saya sendiri percaya bahwa hoaks bisa ditangkal ketika seseorang punya basis pengetahuan memadai, salah satunya adalah pengetahuan tentang komunikasi profetik. Sebuah pengetahuan dengan basis yang jelas, berdimensi wahyu, tak sekadar berdimensi akal sehat (rasionalitas) dan pengalaman (empiris) belaka. Masalahnya, bagaimana praktik literasi (media & digital) berbasis komunikasi profetik bisa kita jalankan? Saya akan bahas pada kesempatan yang lain. [Yons Achmad. Praktisi Komunikasi Profetik. Founder Kanet Indonesia]