Situs Madinaonline.id “Mainan Baru” Ade Armando Menyebarkan Islam Liberal

Kolom

Ade-Armando
Awalnya adalah Majalah Madina versi cetak. Seingat saya, dulu dikelola diantaranya Farid Gaban (Jurnalis Senior) dan Ade Armando (Dosen Komunikasi UI) dkk. Saya pertamakali membaca majalah itu saat masih sering nongkrong di kampus Paramadina, Jakarta. Majalahnya cukup berkelas, dicetak penuh warna dengan kertas yang bagus (art paper).

Isinya sepertinya diperuntukkan bagi pembaca kelas menengah atau keluarga muslim terdidik. Beberapa kali terbit, namun pada akhirnya seperti Majalah Sabili, “Almarhum” juga. Kabar baiknya, versi onlinennya tetap ada, walau sependek pengetahuan saya beberap kali ganti domain, akhirnya muncul Madinaonline.id. Inilah saya kira “Mainan Baru” Ade Armando.

Apa isinya? Beberapa pekan terakhir ini saya cermati isinya. Judul-judul yang “seksi” diantaranya bisa kita baca: “Fiqih Nikah Beda Agama”, “Ahmad Nurcholish: “Nikah Beda Agama di Luar KUA Sah”, Fikih Pernikahan Perempuan Muslimah dengan Pria Non-Muslim”. Judul beserta isinya dengan corak yang mudah kita kenali. Mempopulerkan semacam Islam Liberal.

Beberapa artikel tentang pernikahan agama itu membuat Didik J Rachbini, Ketua Yayasan Paramadina, yang menaungi media itu tidak sependapat dan memerintahkan untuk “menurunkannya”. Ade Armando membangkang, memutuskan bahwa media Madinaonline.id sekarang bukan lagi bagian dari Yayasan Paramadina. Dan, rupanya Ade Armando semakin berani untuk menurunkan isu-isu seputar Islam yang kontroversial.

Terakhir, ketika kolom ini ditulis, Ade Armando menurunkan artikel ”Allah Bukan Orang Arab. Allah Pencipta Orang Arab”. Artikel klarifikasi atas cuitannya di Twitter yang mengatakan ““Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues …”. Setelah cuitan itu beredar, Ade Armando menilai ada yang memfitnahnya. Lewat artikel itulah Ade Armando sibuk menjelaskan maksudnya, yang tentu saja sesukanya dan dengan tafsirannya sendiri. Cuitan itu dipersoalkan oleh salah satu warga Twitter dan telah dilaporkan ke polisi. Hasilnya apa? Kita tunggu saja.

Tapi poinnya, era sekarang, orang bebas membuat media, apalagi media online. Dengan biaya yang cukup terjangkau, banyak orang yang membuat dan mengelola media-media online semacam itu. Dan, saya menilai, saat ini, media online itulah “Mainan Baru” tokoh kita yang satu ini. Pandangan-pandangan keIslamannya barangkali memang berbeda dari “orang kebanyakan”.

Hadirnya media yang mempopulerkan isu-isu Islam dengan corak liberal ini saya kira juga tak perlu diberantas. Tapi justru menjadi peluang para pengkaji Islam untuk beradu argumentasi. Jadi selamat berdebat/berdiskusi/berargumentasi dan merayakan “kebebasan” bermedia. (Yons Achmad/Pemerhati Media/ CEO Kanet Indonesia).