Seni Komunikasi Kritik Ala Al-Ghazali

Anda suka kritik pemerintah? Bagus. Kenapa? Karena itu bentuk sikap kritis. Ketika kita menemukan kebijakan publik pemerintah yang sekiranya bakal menyengsarakan rakyat, maka hukumnya wajib kita kritik. Dalam dunia aktivis, ketika kondisi semacam itu terjadi, pemerintah atau presiden misalnya sewenang-wenang dalam kebijakannya, maka diam adalah bentuk pengkhianatan.

Masalahnya sekarang, bagaimana cara mengkritiknya?

Saya sendiri pernah terjebak dalam kritik yang kata teman penuh dengan kebencian, kesannya penuh amarah. Hasilnya apa? Berlalu bersama angin. Kenapa? Alih-alih pesan tersampaikan, yang dominan muncul adalah sekadar kesan luahan kekesalan semata. Artinya, tentu saja kritik demikian kurang efektif.

Di dalam kajian komunikasi Islam, yang referensi utamanya tentu Al-Quran disebutkan bahwa “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (QS 3: 110). Inilah landasan komunikasi Islam berbasis Al-Quran, berbasis kenabian (komunikasi profetik).

Itu sebabnya, ada baiknya sekarang, khususnya bagi seorang muslim, kita perlu dengarkan petuah ulama, Al-Ghazali, tentang bagaimana kita mesti menyampaikan sebuah kritik. Percikan pemikiran ini saya dapatkan ketika mendengar ceramah seorang pemikir filsafat Jogjakarta yang sedang naik daun di media sosial, tak lain tak bukan Dr. K.H Fahruddin Faiz namanya.

Ketika membahas makna Alim dalam pemikiran Al-Ghazali, diartikan bahwa mereka sebenarnya termasuk kelompok intelektual, yang tentu saja punya tanggungjawab sosial. Artinya apa, mereka boleh-boleh saja mengkritik pemerintah. Problemnya adalah caranya? Menurut Al-Ghazali, caranya harus baik, tanpa marah-marah apalagi dengan caci maki. Kalau yang demikian tetap saja dilakukan, apa artinya? Ibaratnya adalah mencuci dengan air kencing.

Sampai di sini, mungkin ada yang membantah. Bagaimana kita mesti baik-baik dengan pemerintah sementara pemerintah sewenang-wenang dengan rakyatnya sendiri? Kalau teringat pertanyaan kecil ini, pikiran saya melayang pada istilah yang pernah dilontarkan Eep Saefullah Fatah (pemikir politik) dengan konsep Kesabaran Revolusionernya. Terus berjuang untuk sebuah harapan dan cita-cita, tanpa terus berkeluh kesah dengan keadaan yang kita terima sekarang ini. Begitulah seharusnya perjuangan dilakukan. Begitulah semestinya kritik kita sampaikan.

Jadi, kesimpulannya. Teruslah sampaikan kritik.
Dengan cara simpatik agar mendapat simpati publik.
Bukan justru nyinyiran dan cacian yang kemudian didapatkan.
Kritik dengan cantik, itu kuncinya.

Agak terkesan sok bijak memang.
Tapi, apa boleh buat
Saya tak akan membantah ulama sekelas Al-Ghazali

Salam
Yons Achmad
Praktisi Komunikasi Strategis
Founder Kanetindonesia.com
WA: 082123147969

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.