Sanditrack: 17-8-45 Untuk Milenial

Review

Sanditrack
Bersama Milenial Membangun Negeri

Karya: dr. Chairil Anwar, Sp.An
Hal: 240+i-x
Penerbit: Kanet Indonesia

Jumlah kaum milenial telah melebihi separuh total populasi usia produktif negeri ini. Karena makin membesarnya populasi usia produktif itu, Indonesia disebut akan mendapat bonus demografi tahun 2030-an. Dengan kaum milenial mengisi lebih dari 50 persen populasi usia produktif itu, Indonesia boleh berharap akan makin cepat melangkah maju asal kualitas populasi berusia muda itu cukup memadai.

Buku “Sanditrack, Bersama Milenial Membangun Negeri” ini ingin mengajak semua pihak, menjadikan milenial sebagai subyek dalam segala hal, bukan hanya obyek atau pasar. Ulasan penulis buku yang seorang dokter spesialis anak ini, cukup komprehensif dengan merumuskan berbagai persoalan, program, dan tawaran solusi dengan format 17-8-45 (17 permasalahan, 8 program, dan 45 wawasan solusi riil).

Buku diluncurkan akhir pekan lalu di Jakarta. Milenial dengan berbagai keunikan dan potensinya, dikatakan penulis harus hadir dan menjadi pelaku utama termasuk di bidang perekonomian. Ulasan buku ini sendiri luas, tidak hanya menyangkut perekonomian, tapi juga permasalahan-permasalahan umum bangsa disertai tawaran paket solusi yang seharusnya bisa dijalankan, wabilkhusus oleh kaum milenial.

Salah satu yang disorot adalah perubahan gaya hidup yang membuat milenial tidak menjadikan hunian sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Karena itu mereka tidak membuat rencana spesifik untuk membelinya serta mengatur keuangannya untuk mencapainya. Kalaupun punya keinginan membeli rumah, penulis menyatakan kaum milenial umumnya kesulitan dengan akses pembiayaannya (hal. 75).

Yang terakhir ini memang juga kerap disebut pengamat lain sebagai kendala kaum muda membeli rumah. Tapi, mungkin perlu dielaborasi lebih detail, apa yang dimaksud dengan kendala akses pembiayaan itu. Apalagi saat ini semua developer dan bank, juga pemerintah, seperti berlomba menawarkan aneka insentif yang sangat memudahkan dan meringankan kaum muda mendapatkan hunian sendiri.

Teknologi informasi (TI) yang lekat dengan generasi milenial juga menjadi ulasan tersendiri. Penulis berpendapat, kaum milenial harus diarahkan untuk terus meningkatkan potensi dan keahlian agar mampu menangkap dan memanfaatkan berbagai peluang dari perkembangan TI yang mengubah segalanya itu.

Pengembangan berbagai aplikasi khas milenial seharusnya bisa dilakukan terpadu untuk membantu memudahkan aktivitas kehidupan. Bukan jadi aplikasi terpisah sehingga pemanfaatannya tidak maksimal.

Penulis mencontohkan aplikasi untuk membandingkan harga seperti PriceArea, Telunjuk, PricePanda, PricePrice, dan lain sebagainya. Melalui berbagai aplikasi itu kita bisa membandingkan harga berbagai produk dan jasa (hal. 152). Bila ditunjang dengan sistem IT yang canggih, aplikasi pembanding harga itu bisa membuat semuanya serba transparan dan mencegah mark up.

Secara ringan, buku juga menyebutkan berbagai potensi pekerjaan yang bisa dirintis dan menjadi profesi masa depan milenial. Buang jauh-jauh pola pendidikan yang terlalu mengandalkan otak kiri, yang membuat di masa lalu banyak anak bercita-cita jadi dokter, insinyur, dan sejenisnya.

Sekarang yang dibutuhkan pendidikan yang mendorong milenial lebih mengasah otak kanannya, karena aneka pekerjaan hari ini banyak menuntut gagasan dan kreativitas serta lebih penuh warna. Sebab itu sekarang ada profesi seperti buzzerinfluencerselebgram, atau youtuber (hal. 235).

Buku memakai judul Sanditrack, karena penulisnya mengaku terinspirasi mantan Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Salahudin Uno (Sandi) yang saat ini menjadi calon wakil presiden. Bagi penulisnya, Sandi bisa mewakili kiprah milenial karena perjalanan hidupnya sebagai siswa-mahasiswa berprestasi, menjadi karyawan perusahaan swasta, merintis usaha sendiri dari nol hingga menjadi besar, dan berkiprah di politik dengan mengusung berbagai program yang sangat milenial.

Penulis menyatakan, tidak ada kaitan langsung penerbitan buku ini dengan sang cawapres. Ia menjamin bukunya bukan buku politik. Sanditrack, jelasnya, merupakan pemikiran dari orang tua milenial setelah melihat perkembangan zaman yang mendisrupsi semua hal dan bagaimana sebaiknya kita menghadapinya. Penuturan berdasarkan pengamatan yang cukup komprehensif terhadap dunia milenial, membuat buku cukup menyenangkan dibaca.

Pada saat hampir bersamaan juga diluncurkan buku “Jokowi Travelling Story: Kerinci 1983”. Buku menceritakan pengalaman Jokowi dan teman-temannya saat menjadi mahasiswa UGM yang tergabung dalam Mapala Silvagama mendaki Gunung Kerinci di Jambi. Penulisnya Rifqi Hasibuan, salah satu kawan Jokowi semasa mahasiswa itu, juga menyatakan buku bukan untuk mengkampanyekan Jokowi yang kembali mencalonkan diri menjadi presiden.

“Buku diluncurkan menjelang pilpres karena memang tepat pada 16 April 2019 Mapala Silvagama merayakan ulang tahun ke-41,” katanya seperti dikutip Kompas, Selasa (9/4/2019). Namun, ia mengakui, buku cerita pendakian itu hanya akan jadi cerita biasa tentang segerombolan mahasiswa yang mendaki Kerinci dengan modal nekat, kalau tidak ada Jokowi di dalamnya yang saat ini menjadi presiden.

(Sumber:housingestate.id/10/4/19/yudis)