Resep Menulis Ala Ashadi Siregar

Tokoh

Ashadi Siregar. Ya, tokoh ini adalah penulis novel, dosen Ilmu Komunikasi UGM dan pengajar jurnalisme. Kini sudah pensiun dari pekerjaannya dan sedang menikmati hidup di hari tuanya. Tapi, terkait dengan dunia tulis menulis, ada resep yang bisa kita ambil pelajaran darinya.

Resep ini saya cuplik dari kesaksian Dodi Ambardi (Dosen Ilmu Komunikasi UGM) ketika memberi kesaksian dalam buku “Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru” (2010). Kesaksian yang mungkin agak berbeda dengan tokoh lainnya.  Seorang seniman Emha Ainun Najib (EMHA) pernah berujar” Jurnalisme itu masih di permukaan, mereka yang menekuni jurnalisme belumlah sampai kepada puisi”.

Nah, Ashadi Siregar lain.  Dia bilang “Ketika menulis mulailah dengan puisi. Kita bisa mencomot kata apa saja, kita bisa membentuk imajinasi apa saja. Setelah itu, naik kelaslah menulis cerpen. Kau mulai bergaul dengan realitas. Lebih panjang lagi kau menulis novel, dan kita bisa mengenali realitas yang lebih kompleks. Kalau sudah beres di sana, baru kita bikin tulisan jurnalistik di mana kita tak bisa sewenang-wenang memperlakukan realitas, puncak tulisan itu tulisan jurnalistik”.

Begitulah wejangan Ashadi Siregar kali ini. Anda boleh setuju atau tidak.  Tapi, bagi mereka yang percaya resep menulis ala Ashadi Siregar, segera praktikkan. Sebab dalam dunia kepenulisan, praktik adalah lebih utama dari sekadar teori kepenulisan. (Yons Achmad. Pendiri Kanet Indonesia).