Racun Kalajengking Infrastruktur

kolom

Racun Kalajengking Infrastruktur
Oleh:Yons Achmad*

Siapa penulis pidato Jokowi yang heboh soal kalajengking? Saya menduga, yang menulisnya Cak Kardi alias Sukardi Rinakit. Tokoh alumni GMNI yang memang spesialis menulis pidato-pidato politik. Tapi, tentu saja ini hanya dugaan semata. Yang pasti, terlepas dari kehebohan setelahnya. Satu keberhasilan dari pidato itu adalah bagaimana Jokowi lagi-lagi menjadi sentral narasi. Dalam politik, hal ini sangat penting, untuk menjadikan sang tokoh terus dibicarakan. Maka, wajar ketika kemudian diadakan survei, ingatan publik langsung tertuju pada sosok Jokowi. Itu sebabnya, kata pegiat survey, elektabilitasnya terus menanjak.

Hal yang sama sebenarnya juga dilakukan Prabowo. Saya tak tahu, apakah Prabowo “menyewa” orang menuliskan materi pidatonya. Yang saya tahu, dia selalu spontan, kebanyakan bicara tanpa teks ketika berpidato. Pidato tentang kemungkinan Indonesia bubar di tahun 2030 juga menyentak publik. Prabowo menjadi bahan pembicaraan. Terlepas dari segala kontroversinya, tokoh ini kembali menjadi sorotan publik. Berhasil menjadi sentra narasi dan konsumsi media dalam beberapa hari, bahkan sekitar 3 mingguan.

Hanya saja, kalau narasi itu hanya melulu menguntungkan penguasa. Kurang peduli dengan narasi yang dibangun di level akar rumput. Maka tunggu saja, rakyat akan mengadilinya. Kita pernah punya presiden bernama Gus Dur, tokoh yang punya narasi kuat, unik bahkan “semau gue”. Rakyat seolah dipaksa memahami jalan pikirannya. Bagi orang NU mungkin enak saja mengikuti alur pikirnya, tapi bagi yang bukan NU, tak bakal percaya begitu saja omongan Gus Dur. Saking seenaknya, dulu ketika dirinya akan dilengserkan, kalau tak salah mengancam Jakarta akan banjir darah. Tapi, ketika benar-benar lengser, Jakarta aman-aman saja, dengan enteng dijawabnya “Banjir darah ayam”.

Sama seperti narasi yang dibangun Ahok. Yang ini lebih gila lagi. Pokonya terkesan apa yang dilakukan Ahok itu semua benar. Tak peduli dia teriak bangsat, mengumpat kata-kata kotor. Semua pendukung setianya, termasuk beberapa media partisan, mengamininya. Bahkan tak tanggung-tanggung, kata survey, 70% masyarakat puas dengan kepemimpinan Ahok. Gubernur lungsuran ini juga maju, mencalonkan diri menjadi gubernur selanjutnya. Hampir semua survei memperkirakan dia menang. Tapi, fakta membalik keadaan. Dia kalah telak dan malah berakhir masuk penjara karena kasus penistaan agama.

Melihat fenomena komunikasi tokoh yang terus membangun narasi ini menarik. Biarlah lelucon soal kalajengking ini dirayakan oleh masyarakat, terutama warganet. Tapi, rupa-rupanya, kalau melihat secara jeli dan tajam, sebenarnya pemerintahan Jokowi periode ini memang punya satu narasi besar sebagai jawaban, yaitu infrastruktur. Mirip seperti Hizbut Tahrir Indonesia, semua permasalahan jawabannya adalah Khilafah. Nah, era Jokowi ini sepertinya ya begitu, semua persoalan jawabannya ya insfrastruktur. Sebuah narasi yang jelas bertolak belakang dengan narasi revolusi mental dalam kampanyenya. Sebuah narasi yang melenceng. Narasi yang gagal.

Kalau boleh iseng. Jangan-jangan narasi infrastruktur ini akan menjadi semacam racun yang disemburkan kalajengking. Mematikan. Membuatnya tak berkutik. Terjepit keadaan dan tak bisa lagi bergerak. Atau, lelucon dan gimik-gimik pemerintahan yang tak bermutu, lama-lama bakal mengubah rakyat yang semula diam lantas marah, menjadi kalajengking yang siap menyemburkan racun bagi pemerintahan yang hanya sibuk dengan narasi sendiri. Jadi, stop bermain-main dengan narasi semaunya sendiri Pak Jokowi.

Tanah Baru, 4 Mei 2018

*Yons Achmad, pengamat media sosial.