Puasa Medsos ala Rudiantara

Kliping

IMBAUAN ‘puasa media sosial’ dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sempat menuai pro dan kontra. Padahal, mestinya kita bisa memetik manfaat dari gerakan itu, terutama menghadapi ofensif berita-berita bohong, palsu, fitnah, permusuhan, dan segala caci maki, yang sering tersaji di media sosial.

Sama seperti puasa makan dan minum, puasa media sosial pun diharapkan bisa memberikan kesehatan bagi pikiran dan emosi, ‘membersihkan racun’ permusuhan dan kebohongan di dalam diri kita. Bagaimana pelaksanaannya?
Menteri Rudiantara, setelah menggulirkan imbauan puasa media sosial sebulan lalu, mengaku sempat di-bully beberapa pihak. Namun, rupanya Rudiantara meyakinkan, bahwa gerakan ‘puasa media sosial’ itu perlu dicoba. Maka, dalam beberapa kesempatan, ia mengajak masyarakat untuk melakukan ‘puasa media sosial’ itu.

Puasa bermedia sosial, dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa kesehatan manusia bukan hanya melibatkan fisik, melainkan juga mental, emosional dan pikiran. “Kita tahu bahwa wellness juga mencakup aspek mental dan emosional, selain fisik. Jadi, mengapa kita tidak memasukkan diet dan detoksifikasi medsos ke dalamnya? Medsos jelas seringkali melelahkan mental dan emosional kita, kalau malah tidak bisa dikatakan merusak. Jadi, mengapa tidak memasukkannya dalam agenda social wellness kita?” kata Rudiantara di depan peserta Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) di Palangkaraya, Sabtu (12/5).

Untuk mencapai tingkat wellness fisik, orang melakukan puasa, diet, dan detoksifikasi. Puasa media sosial bisa ditempuh jika kita ingin mengurangi ketergantungan dan meminimalkan ekspos terhadap konten negatif. Puasa medsos secara temporer, mendorong kita menjalin relasi riil dengan orang-orang di sekitar kita.

Sementara itu, mengatur diet bisa dilakukan dengan menakar jumlah aktivitas bermedsos atau memilih media sosial yang relatif ‘sehat’. Kita bisa memilih medsos dan kontennya yang sejuk, produktif, dan konstruktif. Jangan biarkan hawa panas, caci maki, dan kepalsuan merasuki jiwa kita.

Sementara itu, detoksifikasi atau mengeluarkan racun dilakukan dengan bersih-bersih medsos dari unsur negatif. Memilih teman jangan sampai yang memanas-manasi untuk berkelahi, atau menelan begitu saja berita bohong dan palsu.
Puasa, diet atau detoksifikasi tidak berarti berhenti total menggunakan media sosial. Puasa bermedia sosial dilakukan dengan menakar ulang jumlah aktivitas atau memilih medsos yang relatif ‘sehat’. Apalagi, kondisi dunia medsos di Indonesia saat ini boleh dibilang sudah melewati ambang kenormalan.

Misalnya, jumlah handphone yang beredar saat ini sekitar 374 juta atau lebih banyak (142%) dari 262 juta total penduduk. Di Indonesia, media sosial merupakan platform yang tumbuh paling pesat dan paling banyak di dunia interenet. Menurut data dari We Are Social-Hootsuite yang dirilis pada Januari 2018, pengguna aktif medsos Indonesia 130 juta orang atau 98,4% dari pengguna internet aktif (132 juta).

Data pengguna Facebook dunia yang aktif per bulannya sekitar 2,17 miliar. Sementara itu, orang Indonesia yang mengoperasikan Facebook sebesar 130 juta (sekitar 6% dari pengguna dunia) atau menduduki peringkat ke 4 dunia. Dalam penggunaan Instagram, Indonesia tercatat sebagai negara ketiga terbanyak (53 juta) setelah Amerika Serikat dan Brasil.

Berdasarkan usia, pengguna internet paling banyak diduduki mereka yang berusia 19-34 tahun (49,52%), disusul usia 35-54 tahun (29,55%). Remaja usia 13-18 tahun menduduki peringkat ketiga (16,68%) dan lanjut usia (lansia) di atas 54 tahun 4,24%. Artinya, 93,76% pengguna internet ialah penduduk kelompok remaja, muda, dan dewasa, dari rentang usia 13-54 tahun. Mereka pula yang berpotensi ‘diracuni’ oleh berita bohong dan berita palsu di media sosial.

Menurut penelitian yang sama, sebagian besar netizen Indonesia  mengunakan smartphone untuk mengakses internet. Rata-rata, mereka mengulik mobile phone-nya untuk mengakses internet 8 jam 51 menit sehari. Untuk main medsos mereka menghabiskan waktu 3 jam 23 menit, menonton televisi 2 jam 45 menit dan mendengarkan musik streaming 1 jam 19 menit.

Sayangnya, kecepatan pertumbuhan penggunaan media sosial itu tidak dibarengi dengan kemampuan memahami konten, sopan santun, etika, dan hukum. Gerakan literasi media sosial yang dilakukan oleh beberapa pihak terasa belum mampu membuat pengguna media sosial kembali ke ‘jalan  yang benar’. Sumpah serapah, caci maki, permusuhan, ujaran kebencian, berita bohong dan palsu, serta fitnah, seolah menjadi menu sehari-hari di media sosial.

Sifat bangsa yang selama ini diagungkan seperti sopan santun, ramah, beradab, berbudaya tinggi dan adiluhung, saling menghormati, rukun, damai, dan tenteram, seolah lenyap ditelan banjirnya berita bohong dan berita palsu di media sosial.

Sebelum kebablasan, berbagai upaya dilakukan untuk menggunakan dan mengonsumsi konten media sosial dengan baik dan benar. Puasa, diet, dan detoksifikasi media sosial ialah salah satu gerakan.

Gerakan puasa medsos bisa dilakukan di keluarga. Mereka dapat menetapkan waktu puasa, misalnya, pukul 18.00–20.00. Selama dua jam, seisi rumah wajib mematikan handphone dan melakukan komunikasi tatap muka. Itulah saatnya mereka berpuasa mengisi status akun, mengomentari dan ber-chatting dengan teman entah di dunia mana. Puasa medsos membuat hubungan anggota keluarga lebih penting ketimbang asyik mengulik handphone.

Gerakan puasa medsos juga bisa dilakukan di sekolah, kampus, tempat kerja, atau pribadi-pribadi. Selama jam pelajaran, siswa, dan mahasiswa dilarang membuka handphone. Atau, selama kerja, karyawan tidak boleh main medsos.

Siapa tahu gerakan puasa bermedsos ini bisa menyelamatkan kita dari pengaruh negatif dan racun medsos. Hubungan antarpribadi diharapkan bisa dijalin kembali setelah dikoyakkan oleh berita bohong, palsu, fitnah, dan permusuhan di media sosial.

Gerakan puasa medsos bisa kita lakukan untuk membuang berbagai racun permusuhan, kebohongan, kepalsuan, caci-maki, dan lain-lain. Dengan berpuasa medsos kita bisa lebih jernih memilih kawan yang membawa kedamaian, kesejukan, kerukunan, produktif, dan konstruktif.

Penulis: A.Margana Dosen Fakultas Ekonomi dan Komunikasi, Universitas Bina Nusantara, JakartaPada: Rabu, 30 Mei 2018, 02:00 WIB/Sumber Media Indonesia/30/5/18)