Penyinyir Karnaval Bercadar

kolom

Penyinyir Karnaval Bercadar
Oleh: Yons Achmad
(Pengamat Medsos. CEO Kanet Indonesia)

Terlalu cepat menghakimi sesuatu yang viral di media sosial (medsos) kerap membuat seseorang terlihat bodoh. Kenapa? Biasanya emosi dan kekurangpahaman yang dikedepankan, sedangkan akal sehat melorot ke dengkul masing-masing. Salah satu contoh kasus video singkat karnaval anak TK yang dipenggal, ditampilkan memakai cadar dan menenteng senjata. Tanpa tahu duduk perkaranya, fakta sebenarnya, hanya berbekal tontonan yang tengah viral, banyak orang yang mendadak menjadi penghakim-penghakim atas nama NKRI.

Penghakiman pertama terkait dengan cadar. Banyak yang menyayangkan kenapa karnaval menyambut hari kemerdekaan RI harus memakai cadar. Pertanyaan demikian menjadi bukti bagaimana bayangan di otaknya memang tendensius. Bahkan, ada yang terang-terangan menduga pemakaian atribut cadar untuk anak-anak itu terinspirasi dari kelompok teroris ISIS. Dari sini saja sebenarnya otaknya sudah rusak. Mungkin terlalu banyak mengkonsumsi dan memakan mentah-mentah berita dari media “setan”. Untuk menyebut media yang memang sangat tendensius kepada Islam, media-media islamophobia. Gagal melakukan penghakiman, dicarilah isu pembenar lain.

Penghakiman selanjutnya adanya senjata yang ditentang anak-anak TK itu. Isu dibelokkan, dari kenyinyiran terhadap atribut cadar kepada penggunaan senjata. Dikatakan bahwa senjata itu identik dengan kekerasan. Muncul kekhawatiran bahwa pemakaian senjata di karnaval anak TK itu bisa menanamkan bibit-bibit kekerasan dan radikalisme. Tentu saja, pandangan demikian salah kaprah dan penghakiman terlalu dini, hanya berdasarkan emosional semata. Kenapa? Penggunaan atribut senjata di karnaval 17 Agustusan itu hal yang biasa. Tapi kenapa dipersoalkan? Maka tak heran muncul tanggapan kekesalan, kalau begitu larang saja para pedagang senjata mainan, kalau perlu tutup saja pabrik senjata mainan atau stop impor senjata mainan yang kebanyakan dari Cina itu.

Penghakiman ketiga tak sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Ya, karnaval yang mengambil tema “Perjuangan Rasulullah” dengan atribut cadar dan senjata tak sesuai dengan kebudayaan nasional. Dikatakan tak seharusnya karnaval menampilkan tontonan semacam itu. Harus mencerminkan kebudayaan bangsa, kebudayaan nasional. Alasan ini juga tak masuk akal. Kenapa? Video viral itu hanya sepenggal dari realitas saja. Faktanya, tak hanya anak-anak TK bercadar yang ditampilkan, tapi ada pasukan berseragam putih dan membawa bendera. Apa itu kurang nasionalis? Dikatakan pula penampilan itu terlalu keArab-Araban. Lagi-lagi pandangan yang mengada-ada. Sekarang coba renungkan, kalau kita mau buka-bukaan soal kebudayaan, apakah karnaval yang menampilkan misalnya barongsai itu sesuai dengan kebudayaan nasional, kebudayaan bangsa? Sampai di sini argumen para penyiyir itu sangat mudah dipatahkan.

Jadi, dari pandangan demikian, saya kira kita bisa melihat siapa-siapa dan kelompok mana yang terus saja menyoal dan menggoreng isu semacam ini. Jargon-jargon atas nama NKRI, Pancasila harga mati, kita junjung kebudayaan nasional dll, sudah semestinya kita tafsir ulang. Kita sudah capek dengan jargon-jargon wah tapi implementasinya tidak ada. Dan saya kira, sudah saatnya media sosial menjadi ajang pencerdasan dan tukar gagasan, bukan media penghakiman yang berbasis ketololan. []