Pentingnya Komunikasi Empatik Pasca Pilpres

Kolom

Bagaimana pemandangan media sosial pasca pilpres 2019? Singkat cerita pendukung kubu 01 adem ayem dan tiba-tiba berubah menjadi sosok yang bijak bestari. Sementara, kubu barisan 02 masih riuh, menyerukan perlawanan atas banyaknya  kecurangan dalam pemilu kali ini.  Lantas, komunikasi seperti apa yang mesti kita bangun sekarang? Tak lain tak bukan, komunikasi empatik.

Dipilpres 2019, saya orang bebas. Walau tentu saya memilih salah satu pasangan capres dan cawapres yang ada.  Saya bukan tim sukses. Jadi, saya bisa bebas mengutarakan apa yang menjadi pikiran dan pandangan saya. Saat di televisi sudah diumumkan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi Ma’ruf, saya mencoba memberikan apresiasi dan empati. Mencoba masuk ke dalam perasaan orang lain. Saya tulis kolom “Selamat untuk Jokowi”.

Memang, kemudian bisa membuat pendukung Jokowi senang. Tapi, ternyata menyakiti perasaan pendukung Prabowo-Sandi. Hingga saya mengoreksi sedikit niat empati yang ternyata salah sasaran itu. Harusnya, empati saya haturkan kepada Prabowo-Sandi beserta pendukungnya yang divonis kalah dalam hitung cepat lembaga survei. Dari sini, saya kembali mencoba menggali apa itu empati.

Empati, memang istilah yang akrab dikalangan psikolog. Kata empati (empathy) berasal dari kata Einfuhlung (bahasa Jerman) yang berarti merasa terlibat (feeling into).  Tapi, dalam studi komunikasi insani (humas communication) empati ini sering dihubungkan dengan sejauh mana seseorang mau mendengar orang lain. Tak melulu memaksakan pandangan dan pendapatnya sendiri. Singkatnya, empati dalam komunikasi adalah bagaimana kita bisa lebih banyak mendengar daripada misalnya lebih banyak menilai (menghakimi) orang lain.

Dalam kasus pilpres ini juga begitu. Pasca kalah dalam hitung cepat pilpres, kubu Prabowo-Sandi deklarasi kemenangan. Lantas, banyak orang yang kemudian ramai-ramai menghakimi. Menjadi hakim, tentu dengan semburan beragam stigma dan caci-maki.  Semua diarahkan ke kubu 02. Seperti misalnya gerombolan kampret bodoh, halu, berhalusinasi, anti ilmu pengetahuan dst.  Tapi, apakah dengan kenyinyiran itu netizen pendukung 02 tinggal diam? Tidak.

Mereka percaya sebelum KPU mengumumkan secara resmi hasil pilpres 2019 ini, maka perjuangan tetap terus dilakukan. Mengawal data C1, melaporkan dan memviralkan banyaknya kecurangan. Mereka saya kira bukanya tak percaya ilmu pengetahuan seperti “Hitung Cepat”. Tapi, mereka tidak percaya pelakunya. Itu saja. Dan saya yakin, semua kehebohan ini bakal terus berlangsung sampai sebulan ke depan.

Kini, sudah saatnya, narasi empatik kita kedepankan. Sudahi beragam stigma. Biarkan masing-masing berjuang  diranahnya. Sudah saatnya kita lebih banyak mengapresiasi daripada mencaci, lebih banyak menghargai daripada menghakimi, lebih banyak mendengar daripada terus bicara tapi tanpa makna. Itulah komunikasi empatik. Yang kita perlukan saat ini, demi sebuah tatanan peradaban media sosial yang lebih humanis.  Jujur, saya sendiri juga sedang belajar mempraktikkan Komunikasi empatik ini, demi kehidupan yang lebih baik bagi diri dan sekitar. (Yons Achmad. Pengamat Media Sosial. CEO Kanet Indonesia)

Depok, 25 April 2019.