Pentingnya Judul Empatik dalam Media

Kolom

Analisis Media

Sebuah Koran di Jawa Tengah, tepatnya Purwokerto memberi judul begini : Pelajar SMK Tewas “Dihajar” Kereta. Membaca Koran Satelit Pos itu, seorang dosen Ilmu Komunikasi Unsoed, Edi Santoso di Facebook berkomentar “Judul yang tidak empatik. ‘Dihajar’ ? Bagaimana kira-kira perasaan keluarga korban? Tertabrak kereta itu tragedi. Bahkan kita sulit menyalahkan korban, ketika itu ‘perlintasan tanpa pengaman.

Kasus ini sebenarnya perlu mendapatkan perhatian, khususnya bagi para mahasiswa Ilmu Komunikasi, akademisi maupun para praktisi komunikasi, terutama pekerja media. Selama ini, yang kerap diajarkan adalah bagaimana membuat judul yang menarik. Yang, salah satu ilmu yang diajarkan adalah membuat judul yang provokatif dan bombastis. Judul itu barangkali mewakili contoh judul yang bombastis. Apakah yang demikian ini dibenarkan dalam perspektif jurnalisme? Perlu perdebatan lebih lanjut.

Dalam kasus ini, saya malah tertarik dengan diskusi soal “Judul yang Empatik”. Tema yang begitu jarang didiskusikan, apalagi diaplikasikan. Penggunaan judul yang empatik ini saya kira memang perlu untuk mengembalikan media ke sisi yang lebih humanis, tak melulu mengabdi pada tuntutan bisnis (komersial). Masalahnya sekarang, apakah penggunaan judul-judul yang empatik ini bisa dan selaras dengan logika bisnis media? Lagi-lagi saya masih belum mau berasumsi, harus ada penelitian lebih lanjut tentang itu.

Bisa jadi, judul menarik itu hanya mitos belaka, justru lewat judul-judul yang empatiklah pembaca menjadi respek dan tertarik untuk mencermati (membaca) lebih lanjut. Dalam arti rating tulisan dengan judul empatik ternyata bisa mengungguli judul-judul menarik (bombastis saja). Dalam bisnis media, mitos-mitos kadang terbantahkan. Misalnya sosok seorang host/presenter itu harus menarik secara penampilan dan berbicara dengan lancar tanpa belepotan. Apakah ini benar? Tidak juga. Buktinya acara Indonesia Lawyer Club (ILC) dengan Host Karli Ilyas yang bicaranya terbata-bata, serak-serak basah dan tak fasih mengucapkan kata “Pemirsa” toh banyak digemari orang.

Jadi, mulai sekarang, saya kira, bagi para pekerja media, tak ada salahnya mencoba mulai menggunakan judul-judul yang empatik. Berawal dari idealisme membawa jurnalisme kearah yang lebih manusiawi, menjadikan media kita semakin beradab. Begitulah harapan kita. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).