Mengapresiasi Solidaritas Media Peduli Rohingnya

Kolom

Pengungsi Rohingnya
Atas dasar apa media membela pengungsi Rohingnya? Tak lain tak bukan, atas dasar kemanusian. Kuatnya solidaritas dan kepedulian media terhadap kasus Rohingnya ini, saya kira perlu diapresiasi positif. Begitulah seharusnya. Media membela dan mengangkat isu, tak melulu mesti harus dilakukan ketika media “dekat” dengan sesuatu, seseorang, lembaga, atau negara tertentu yang mempunyai “hubungan baik” dengan media yang bersangkutan.

Perkembangan terbaru, ribuan pengungsi Rohingnya dan Bangladesh kembali harus tinggal di lautan lepas setelah Malaysia memerintahkan dua kapal yang ditumpangi ratusan orang mundur dari perairan mereka. Dan pada akhirnya, mereka tiba Di Aceh dalam kondisi kelaparan dan fisik yang memprihatinkan. Dalam catatan Badan Pengungsi PBB dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 120 ribu muslim Rohingnya telah menaiki kapal dan melarikan diri ke negara-negara lain.

Dalam sudut pandang media bagaimana melihat kasus Rohingnya ini? Media akan selalu membela atau mengangkat isu yang dekat dengan mereka. Misalnya, dulu ada Koran Jurnal Nasional, Koran itu sepanjang “karir” nya adalah membela kebijakan-kebijakan dan personal mantan Presiden SBY. Walau sejak SBY lengser, Koran itu “Almarhum”. Jauh sebelum itu, Koran Suara Karya, jelas begitu membela Pak Harto.

Di media Islam, dulu ada majalah Sabili yang “dekat” dengan Moamar Khadafi (Libya). Getol membela, namun sejak sang tokoh meninggal, Majalah Sabili bernasib sama dengan Jurnas, “Almarhum” juga. Contoh lain, Dakwatuna.com akan selalu membela tokoh-tokoh PKS atau Ikhwanul Muslimin Mesir, apapun yang terjadi. Sekarang, Media Indonesia, apa boleh buat, mau tak mau harus beritakan yang baik-baik dari Jokowi.

Begitulah. Yang ang saya maksud ada hubungan antara baik dalam hal ini adalah ada hubungan kedekatan dan barangkali media bersangkutan memang mendapatkan “donasi” untuk membela kepentingan-kepentingan yang ada. Tapi, apa kepentingan dari pembelaan terhadap para pengungsi Rohingnya ini? Tidak ada. Kecuali, saya melihatnya sebagai semata-mata karena kemanusiaan saja. Nah, sekali lagi, saya cukup mengapresiasi media-media yang membela dan sekaligus mengadvokasi para pengungsi Rohingnya ini. Harapannya tentu mengetuk hati para pengambil kebijakan (negara) untuk lebih peduli dan memanusiakan mereka. Itulah tugas kemanusiaan yang bisa dilakukan media. (Yons Achmad/Pemerhati Media/ CEO Kanet Indonesia).