Pengamat: Real MCA Harus Share Konten Sesuai Ajaran Islam

Berita


Operasi penangkapan terhadap penyebar berita bohong (Hoaks) dan Ujaran Kebencian terus dilakukan aparat kepolisian, baru-baru ini Polisi menangkap kelompok yang bernama ‘The Family Muslim Cyber Army (MCA).

Penangkapan itu berujung dengan framing media massa bahwa kelompok tersebut terkait arus Muslim 212, tak ayal memicu perdebatan dan protes keras umat Islam, karena terkesan mengopinikan buruk dan menakut-nakuti. Umat menilai pelaku ujaran kebencian itu bukan “the real” MCA.

Pengamat Media, Yons Achmad mengatakan penanganan hukum kasus Family MCA belum tuntas secara keseluruhan, sehingga tidak tepat ada kesimpulan-kesimpulan dini.

“Sejauh ini kan belum jelas apa yang disebut Polisi sebagai The Family MCA itu. Mereka ditangkap dengan tuduhan bikin hoaks. Nah, harus diusut tuntas dan transparan hoaks seperti apa yang dituduhkan. Jangan berhenti ditangkap dan kasus ditutup,” katanya kepada voa-islam.com, Kamis (8/3/2018)

Menurut Yons, kasus itu harus selesai hingga ke Pengadilan, untuk membuktikan bahwa mereka bersalah bikin hoaks. “Jangan hanya sekadar persepsi aja,” cetusnya.

Yons mengatakan cara mengetahui MCA yang ditangkap oleh aparat “The Real MCA” atau bukan dapat dilihat dari nilai-nilai yang dishare oleh akun-akun tersebut.

“Kalau MCA yang benar ya sesuai ajaran Islam. Dalam Islam terkait dengan medsos (media sosial,red) dikenal adanya sosok netizen profetik. Nah, MCA harusnya begitu”ujarnya.

Yons menjelaskan bahwa netizen profetik adalah dakwah medsos berbasis kenabian alias sesuai ajaran Rasulullah Saw. Mengajak kebaikan dan memberantas kemungkaran serta tetap menyerukan dakwah di medsos agar manusia selalu ingat kepada Allah swt.

“Artinya, tidak usah takut berdakwah pasca penangkapan the Family MCA, Terus berdakwah sesuai kapasitas masing-masing. Tapi, jauhi hoaks agar tak kena delik,”katanya.

Yons menambahkan bahwa di era medsos sudah saatnya siapapun yang memiliki ilmu kepakaran harus bersuara, supaya opini publik yang berkembang tidak tertutup opini-opini jahat dan kemungkaran.

“Medsos saya kira bukan sekadar media komunikasi semata. Medsos adalah medan perang pertarungan opini antara yang haq dan batil. Tinggal kita mau pilih di posisi yang mana,”pungkas Founder Kanet Indonesia itu. (Sumber/bilal/voa-islam/8/3/18)