Peluang Bisnis Media Untuk Konsumsi Orang Goblok

Kolom

media sampah
Di arena Islamic Book Fair 2015 saya ketemu dengan seorang teman yang sudah banyak menghasilkan uang dari internet, khususnya melalui Google Adsense. Sebagai orang yang konsen dalam bidang media, khususnya pengembangan media online, saya iseng tanya-tanya ke dia. “Bro peluang bisnis media yang oke tahun 2015 apa nih” Jawabnya cukup mencengangkan “Buat saja media khusus untuk konsumsi para ibu-ibu atau bikin media untuk konsumsi orang goblok”.

Waduh kok bisa begitu? Dia lalu menjelaskan bagaimana kebiasaan ibu-ibu yang kadang matanya melotot kalau ada tawaran disko, misalnya di toko online. Serasa perhatian dunia teralihkan, hanya terfokus pada diskon barang tertentu itu. Nah, karena kita punya media yang dibaca ibu-ibu dan kita pasang Iklan Google Adsense, kemungkinan besar banyak dilongok dan di klik para ibu-ibu itu tanpa pikir panjang. Dan mengalirkan dollar melalui media yang kita bangun dan kita kelola itu.

Kedua buatlah media untuk orang goblok. Sebenarnya, kata teman saya itu lebih halus sih, buatlah media untuk orang kampung, lebih tepatnya sih bukan orang kampung beneran, tapi orang kampungan. Saya menafsirkan secara bebasnya sebagai orang goblok. Intinya, bagaimana membuat berita yang kadang “sampah” bombastis, berbau mesum dan mengundang rasa penasaran tapi sebenarnya tak ada gunanya tahu informasi itu. Ya, karena  informasi itu memang begitu remeh-temeh alias informasi sampah yang hanya menyita waktu kita saja.

Khusus untuk peluang bisnis media bagi para ibu-ibu itu, kapan-kapan dech kalau ada kesempatan saya akan membahasnya lebih detail. Pada kesempatan kali ini, saya akan coba sedikit membedah bagaimana strategi media untuk orang goblok itu juga dimainkan oleh media-media online kita. Tak hanya media-media besar, tapi juga media-media kecil yang ikut-ikutan memproduksi konten semacam itu.

Tapi untuk kata goblok ini mungkin saya luruskan dulu. Mungkin goblok disini adalah konsumen berita yang begitu mudah tergoda untuk melakukan klak klik yang barangkali memang menarik tetapi sebenarnya tidak dibutuhkannya. Banyak contohnya, misalnya judul berita begini “Di Twiter Syahrini Pamer Bokong Barunya, ini dia foto-fotonya”. Menarik perhatian, tapi apa sih yang didapatkan kalau sudah melihat gambar bokong Syahrini? Media online kita kerap menayangkan berita-berita yang mungkin menarik tapi sebenarnya tidak kita butuhkan. Nah, apa boleh buat, media online kita sering sekali menayangkan berita-berita sampah seperti ini. Yang penting hasil akhirnya dapat duit dari bisnis media. Tapi apakah berkah?

Itu tafsiran bebas saya tentang bagaimana berbisnis media untuk konsumsi orang goblok. Tapi, sekedar info, teman saya itu sebenarnya mencontohkan buat media khusus untuk orang kampung itu benar-benar untuk orang kampung. Seperti yang saat ini misalnya sedang mewabah soal batu akik, kita buat media atau blog yang ngomongin tentang semua itu dan kemudian jadi referensi paling depan. Hasilnya, trafik media kita naik karena banyak yang cari dan orang kampung itu tak banyak mikir untuk misalnya klik iklan yang muncul. Beda dengan orang “Kota” yang “Pinter”, mereka kadang pelit untuk sekedar klik iklan yang ada, memilih mengintip link alamat website pada iklan itu dan mengetikkannya di browser.

Nah, dari sini saya tentu tak merekomendasikan membuat media dengan konten “jebakan” untuk orang-orang goblok itu semacam itu. Kasihan, hidup itu singkat, jangan bikin orang membuang-buang waktu percuma dengan mengonsumsi berita/informasi yang tak dibutuhkannya. Tapi, kalau membuat media yang informasinya membantu orang-orang “kampung” semacam informasi seputar batu akik itu ya bolehlah, itu sah-sah saja sebagai konsep sekaligus model bisnis media. Begitu. (Yons Achmad/Pemerhati Media/ Pendiri Kanet Indonesia).

Sumber foto ilustrasi dari remotivi