Pekerjaanmu Bukan Omong Kosong

Kolom

Pekerjaanmu Bukan Omong-Kosong
Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

Di Jakarta, suatu ketika. Seorang petinggi republik pidato. Tiba-tiba gerimis datang. Sang asisten pribadi (aspri) langsung gercep alias gerak cepat. Memayungi sang petinggi. Pemandangan apa? Biasa. Banyak manusia yang semacam itu. Menjadi manusia yang selalu siap disuruh-suruh. Motivasinya apa? Jelas. Uang. Tapi, selain itu apa? Tidak ada. Apakah punya makna? Entahlah. Saat idealisme masih kuat menyala, saya pernah mau ketawa lihat itu fenomena, tapi takut dosa.

Tempo hari, saya baca iklan pada satu koran Jakarta. Di situ ada rilis buku bagus. Judulnya “Bullshit Jobs” karangan seorang antropolog bernama David Graeber. Dia cukup cermat amati sekitar. Dia melihat begitu banyak pekerjaan yang tak berguna atau tak berdampak apapun. Sebuah pekerjaan yang dibuat agar seolah-oleh seseorang bekerja, tapi sebenarnya tidak penting. Tentu, ini sebuah provokasi yang asyik diikuti.

Dalam buku itu, konon berisi banyak cerita orang-orang yang bekerja tapi tak bahagia, merasa tak berkontribusi positif bagi orang lain. Banyak juga yang sering merasa konyol karena pekerjaan yang dilakukan benar-benar tak masuk akal dan tak berguna sama sekali.

Oleh Graeber, pekerjaan demikian dibagi dalam beberapa tipe. Sebut saja tipe “Flunkies” pekerjaan yang diadakan hanya untuk menjadikan orang merasa penting atau menjadi terlihat penting. Contohnya petugas pembuka pintu, pemencet tombol lift.

Tipe “Goons” pekerjaan manipulatif, macam desain grafis perusahaan iklan yang tiap hari buat semua produk terlihat bermanfaat. Tipe “Duct Tapers”, pekerjaan yang tercipta untuk selesaikan masalah pihak lain. Conton PNS bagian Humas yang sewa konsultan karena tidak becus buat berita atau rilis. Tipe “Box Tickers” pekerjaan pseudo makna, staf perusahaan yang buat berita berisikan narsisme pimpinan belaka. Atau “Taskmasters”, pekerjaan yang diadakan agar perusahaan terlihat terkelola baik. Contoh supervisor yang tak melakukan pekerjaan selain menyuruh orang.

Ya, kita mungkin tak 100% sependapat dengan tipe di atas. Tapi, setidaknya, ini menjadi bahan renungan kita. Apakah pekerjaan yang kita geluti sekarang bermakna? Berdampak dan berguna bagi sesama? Atau ternyata hanya sebatas omong kosong belaka. Pada akhirnya, semua akan kembali kepada diri kita masing-masing.

Bagi orang Islam, kalau serius contoh Rasulullah, dalam hidupnya, hanya dua yang dilakukannya. Berdagang dan berdakwah. Itu saja. Walau, berdagang sebenarnya bukan tujuan, itu hanya sebatas ikhtiar penghidupan agar bisa tetap melakukan tugas utamanya, yaitu berdakwah. Terlihat tampak sederhana. Tapi, praktiknya tak seindah pidato para motivator.

Kalau merenungkan hal ini, ada satu pertanyaan kecil. Pekerjaan apa yang tetap bisa dilakukan walau usia sudah menua? Diantaranya dua. Menjadi seorang guru atau menjadi seorang penulis. Kalaupun tak jadi guru, bolehlah sekarang kita sebut pekerjaan itu sebagai “Pembicara Publik”. Itulah dua pekerjaan yang tak pernah kenal kata pensiun. Bagaimana soal makna? Jika konten yang dihasilkan mencerahkan. Selaras dengan bagaimana Nabi ajarkan, maka itu sudah cukup sebagai bekal penghidupan. Yakin saja, itu bukan pekerjaan omong-kosong atau sia-sia. Tapi jelas, pekerjaan penuh makna. Dan tentu saja bermanfaat untuk sesama.

Hanya saja, seperti para bijak bestari pernah berkata: seorang guru, pembicara publik, penulis, bisa melakukan pekerjaan ibarat seorang intelektual atau filsuf yang selalu memberi pencerdasan publik untuk bisa melihat akar sebuah masalah. Atau konsultan yang selalu berpikir bagaimana menyelesaikan masalah. Tapi, kalau tak kuat iman, bisa banting stir menjadi “Buzzer” politik yang mencari penghidupan melulu dengan membuat masalah. Jadi, waspadalah, waspadalah. []