Moralitas “Ghifarian” Media

kolom


Moralitas “Ghifarian” Media
Oleh: Yons Achmad*

Bagaimana peran media di tengah rakyat yang terus ditindas penguasa? Pertanyaan kecil ini saya kira perlu dijawab tuntas. Terkait dengan peran media demikian, saya teringat postingan status Facebook Nasihin Masha, mantan pemimpin redaksi koran Republika yang kira-kira bunyinya begini. “Presiden otoriter, represif? Aparat memihak? Tenang. Selalu ada harapan ketika cendekiawan dan pers masih independen dan mumpuni. Tapi, khawatirlah jika keduanya sudah berkhianat dan menjadi tukang”.

Status ini menarik. Masalahnya sekarang, bagaimana kalau pers malah sudah menjadi partisan penguasa? Tentu, apa boleh buat, kita tentu saja tak akan pernah bisa mengharapkan pers demikian. Alih-alih bersikap kritis dan membongkar kebijakan publik yang menyengsarakan, yang ada justru sibuk menjadi corong pencitraan. Tapi, saya kira, media, terutama beberapa media arus utama (mainstream) tak akan pernah mengakui kalau mereka partisan.

Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Media sendiri, memang, dalam kehidupan keseharian, tak bisa kita lepaskan. Seperti kata Marshal McLuhan, pengarang “Understanding Media”, bahwa media telah memperbesar kemampuan kita untuk memahami dan mengetahui tatanan sosial dan budaya yang beragam di berbagai tempat, begitu juga sampai ke tingkat bahwa media telah memperbanyak apa yang kita ketahui.

Tapi, tentu saja kita tak terus membiarkan media begitu saja hadir. Filsuf Jerman, Martin Heidegger, penulis “Being and Time” pernah mengungkapkan, “Kita hanya tahu palu ketika dia telah rusak”. Heidegger mencoba menyoroti bahwa palu merupakan bagian dari sesuatu yang kita terima begitu saja serta bagian dalam kehidupan sehari-hari, di mana palu, sedikit banyak digunakan tanpa berpikir. Ungkapan demikian saya dapatkan dalam buku terjemahan “Moralitas Media” karangan Keith Tester yang diterbitkan Juxtapose.

Saya kira, interaksi kita dengan media juga begitu, kita perlu mempertanyakan ulang kehadiran media. Salah satunya bagaimana moralitas media menyikapi kondisi dalam suatu negara ketika rakyatnya semakin susah. Sampai, saya mengusulkan bahwa media, terutama media Islam, perlu mengembangkan dan mempraktikkan apa yang saya sebut dengan moralitas “Ghifarian”.

Istilah “Ghifarian” ini, terinspirasi oleh kisah sahabat nabi Muhammad, Abu Dzar Al-Ghifari. Seorang tokoh di zaman Rasulullah yang dikenal sebagai pembela kaum lemah, kaum tertindas. Nah, rasa-rasanya spirit “Ghifarian” ini cocok bagi media era “Pemerintahan Rusak” sekarang ini. Alih-alih terus menjadi pembenar pemerintah, penguasa, sudah saatnya, media memerankan tanggungjawab untuk membela rakyat yang lemah, rakyat yang tertindas.

Kenapa ini penting? Sebab saat ini, media terjebak pada isu-isu elit yang begitu sarat dengan kepentingan (politik) sesaat. Media kurang serius menyoroti isu-isu kebijakan publik yang bersentuhan langsung dengan bagaimana kesejahteraan rakyat bisa meningkat. Derajat hidup masyarakat menjadi lebih membaik dari sebelumnya. Saya kira, spirit moralitas “Ghifarian” ini perlu terus digelorakan.

Jangan sampai, seperti David Barrat (1994) dalam “Media Sociology”, media terus menjadi instrumen elit untuk menyebarkan ideologi dominan. Kalau terus menerus hal ini terjadi, tentu saja kondisi demikian tidak menguntungkan masyarakat sipil arus bawah. Apalagi, seperti kata Denis McQuail (2000) dalam “Mass Communication Theory” yang mengungkapkan bahwa media menyebarkan ideologi yang mendukung kemapanan kekuasaan.

Hal ini tak boleh dibiarkan. Memang, dalam praktiknya, pekerja media saya kira paham persoalan ini. Tapi mereka kadang tak bisa berbuat banyak sebab terjebak dalam korporasi besar media di mana petingginya punya kepentingan politik masing-masing. Salah satunya terang-terangan mendukung kekuasaan. Jika sudah demikian, maka apa boleh buat, kita perlu terus dukung para pekerja media independen yang barangkali mereka bekerja di media-media kecil, tapi masih tetap bisa merawat akal sehat jurnalisme. Di tangan merekalah, moralitas “Ghifarian” media ini disuarakan, moralitas media dengan spirit pembebasan.

Tanah Baru, 2 Mei 2018

*Pengamat media. Pendiri Kanet Indonesia