Menyoal Gaya Komunikasi (Politik) Ahok

Kolom

Ahok
Gaya komunikasi Ahok, Gubernur DKI Jakarta menyedot perhatian praktisi komunikasi dan public relations (PR). Dengan gayanya yang blak-blakan, cenderung ceplas ceplos, dengan bahasa yang spontan menjadi ciri khas menonjol Ahok. Gaya demikian kemudian membuka konfrontasi langsung dengan partner kerjanya, DPRD DKI. Seperti kasus yang muncul dan menjadi isu media beberapa hari ini terkait dengan dana siluman APBD.

Tak tinggal diam. Anggota DPRD pun ketok palu, mengajukan hak Angket untuk mengusut duduk perkara dana siluman itu. Para anggota dewan cenderung bertahan. Sementara, Ahok begitu aktif bicara di media terkait dengan kasus dana siluman itu. Termasuk aktif menggunakan sosial media untuk menjelaskan duduk perkaranya. Yang barangkali juga dimainkan oleh relawan-relawannya Lantas, bagaimana hasilnya?

Sebelum kita saksikan pemandangan akhir perang media antara Ahok dan DPRD itu, ada satu gaya komunikasi Ahok yang menarik perhatian. Yaitu dia adalah sosok yang begitu yakin akan kebenaran yang menjadi keyakinannya. Lewat media, dia begitu lantang menyuarakan transparansi, menolak korupsi, juga tak takut untuk masuk penjara. Dalam kacamata kajian media, gaya komunikasi Ahok ini kontras dengan gaya komunikasi pejabat pemerintahan yang cenderung normatif dan menjawab ala kadarnya, dan kadang tidak jelas arahnya. Ahok lain, dia adalah sosok yang to the point atau dalam bahasa Jawa tanpa tedheng aling-aling alias tidak basa basi dalam menyoal sebuah perkara.

Kemudian yang menjadi persoalan, apakah Ahok memang benar-benar berada di pihak yang “benar”. Ataukan kemudian ternyata dia keliru mengambil kebijakan dan pihak DPRD yang ternyata benar. Kalau sudah demikian, maka gaya komunikasi ala Ahok itu tak ada artinya. Justru hanya membuatnya mempermalukan diri sendiri. Maling teriak maling, kata orang. Sekarang, publik hanya bisa menyaksikan dan menunggu, sebenarnya pihak mana yang cari perkara dalam soal dana siluman itu. Siapa koruptor yang sebenarnya. Kita tunggu saja. (Yons Achmad/Pemerhati media/ Pendiri Kanet Indonesia)