Menjaga Marwah Komunikasi

Kliping

SEORANG anggota DPRD Karawang dikeroyok massa, garagara membuat meme yang dianggap menghina tokoh tertentu. Seorang remaja yang menurut pengakuannya iseng mengancam Presiden Jokowi, akhirnya ditangkap polisi serta diperiksa secara intensif. Orang tuanya pun harus bingung dan tergopoh-gopoh memintakan maaf. Seorang dosen di Sumatera Utara ditangkap serta diperiksa polisi, karena mengunggah statemen bahwa bom Surabaya adalah sekadar pengalihan isu.

Masih ada lagi sejumlah pesan komunikasi sesat yang diunggah di media sosial, bahkan media mainstream, yang hanya merupakan asumsi tanpa didukung data akurat. Sebut saja pernyataan seorang anggota DPR di berbagai media, bahwa THR PNS,TNI, Polri, pejabat negara serta pensiunan bernuansakan kepentingan politik, padahal kebijakan itu dibuat berdasarkan UU APBN, di mana DPR yang turut mengesahkannya, serta sebagai pejabat negara, DPR pun akan memperoleh THR tersebut.

Intinya, di era kebebasan dan keterbukaan ini sejumlah orang memanfaatkan media secara maksimal, sehingga banyak kalangan lupa, atau mungkin kurang mengetahui, bahwa media massa (termasuk media sosial) itu memiliki kekuatan melipatgandakan pengetahuan (multiplier of knowledge). Dengan salah satu kekuatan yang dimilikinya tersebut, kita bisa membayangkan bagaimana dampaknya, bila pengetahuan serta pernyataan yang disampaikannya tersebut hanyalah asumsi, bahkan atas dasar keisengan atau menyesatkan, yang justru mengaburkan prinsip dasar fungsi informasi, yang antara lain menghilangkan kebingungan atau ketidakpastian. Selain itu, akan menimbulkan opini sesat. Dan komunikasi semacam itu akan membuat banyak orang bingung. Dari sisi etika komunikasi, membingungkan orang itu masuk pada kategori komunikasi tidak etis. Pertanyaannya, akan teruskah kejadian seperti itu terjadi ke depan?

Tidakkah penting setiap orang, utamanya para elite erta intelektual memahami fungsi serta kekuatan media, sehingga mereka mampu memanfaatkannya secara benar, sekaligus memberikan contoh baik pada kalangan yang lebih luas? Mc. Luhan tahun 1962 telah menyebut bahwa ”media and communications is the extention of man. Media serta komunikasi akan menunjukkan eksistensi dari manusia”. Menyadari akan hal itu, senyampang dengan era kebebasan saat ini, maka banyak orang, utamanya para elite memanfaatkannya secara maksimal untuk menyampaikan informasi, bahkan opini, guna tujuan tertentu. Sayangnya banyak di antaranya kurang melek media atau komunikasi, atau sebaliknya sebenarnya melek keduanya, namun tetap saja memanfaatkannya secara salah. Kita lalu ingat kata Keneth Burke dan Erving Goffman, yang menyebut bahwa manusia sering menyalahgunakan simbol yang diciptakannya, di antaranya simbol komunikasi. Yang perlu dihindari adalah memanfaatkan komunikasi serta media untuk menyesatkan masyarakat melalui kritik serta informasi yang berupa asumsi tanpa didukung data.

Menggunakannya tanpa memperhatikan etika serta UU dan peraturan yang berlaku pun sebaiknya dihindarkan, karena mengusik serta merugikan pihak lain itu mengandung risiko harus meminta maaf dan itu menurunkan kredibilitas, bahkan akan berurusan dengan hukum. Hal ini karena kini telah ada UU serta peraturan yang harapannya membuat setiap orang makin hatihati, sehingga marwah komunikasi akan selalu terjaga.(34)

— Drs Gunawan Witjaksana MSi, dosen dan Ketua Stikom Semarang, serta dosen luar biasa Ilmu Komunikasi Udinus dan USM (Sumber: Suaramerdeka/8/6/18).