Menjadi Pemikir Independen

Kolom

Di tengah kepungan kehidupan (politik) yang penuh kepentingan, kita memerlukan lebih banyak pemikir independen. Kenapa? Hanya pemikir independenlah yang bisa memberikan beragam pandangan secara jujur dan jenih. Apa boleh buat, kehidupan (politik) yang kita hadapi sekarang telah melahirkan begitu banyak intelektual yang sebelumnya begitu tampak cerdas dan kritis. Tapi mendadak jadi goblok dan naif ketika sedikit saja mendapat jatah remahan kue kekuasaan.

Pertanyaannya, apakah pemikir independen ini bakal lahir dari mereka, personal-personal yang berada atau mengklaim diri sebagai kubu oposisi? Jawabannya adalah tidak. Kenapa? Alih-alih pandangan kritis yang jernih dan mencerahkan. Justru acapkali, yang muncul sekadar sudut pandang asal beda dengan penguasa, asumtif, non data plus kenyinyiran semata. Itu sebabnya, kekosongan ruang pemikir independen ini perlu diisi. Untuk menyelamatkan akal sehat bangsa ini. Kita memerlukan sosok di luar epincentrum politik.

Jauh hari, sebenarnya debat tentang peran pemikir independen ini telah dilakukan. Kita bisa melacaknya dalam buku “Cendekiawan dan Politik” (1983) terbitan LP3ES. Adalah Soejadmoko, salah seorang cendekiawan yang menarik perhatian saya.

Seorang intelektual yang selalu berada di luar pemerintahan. Saya kira, memang demikian pilihan hidup seorang intelektual. Berani sendiri. Selalu vokal ketika melihat segala bentuk ketidakberesan apalagi penindasan.

Terkait dengan peran intelektual, saya teringat sebuah sajak Rendra:

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya…

Begitulah. Intelektual, seorang pemikir independen, sekali lagi harus mengambil jarak dengan kekuasaan agar tetap bisa bersuara kritis menyuarakan pentingnya keadilan. Memaksa masuk ke jantung kekuasaan, maka yang bakal hadir adalah, mengikuti istilah Rendra, intelektual-intelektual salon.Yang selalu setia, terus menerus bekerja untuk sebuah pembenaran atas kebijakan yang dilakukan penguasa.

Kita mesti menolak intelektual semacam itu. Kenapa? Yang ada hanyalah basa-basi seolah telah memainkan peran intelektual. Tapi, yang sebenarnya adalah melakukan kerja-kerja “mengamankan penguasa”.

Padahal, dalam kondisi sekarang ini, yang diperlukan adalah pemikir sejati. Yang punya peran sentral sebagaimana mestinya. Apa itu? Saya setuju dengan pandangan Edward Said penulis buku “Representations of the Intellectual”, yang berpendapat, para intelektual, pemikir independen, seharusnya mengambil peran yang “mengungkapkan kebenaran di hadapan kekuasaan” (speaking truth to power).

Saya kira, memang demikian seharusnya. Hal ini juga selaras dengan doktrin pergerakan Islam. “Sebaik-baik jihad ialah berkata yang benar di hadapan penguasa yang zalim atau pemimpin yang zalim.” (HR. Abu Dawub, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Berani berkata benar kepada penguasa (speaking truth to power), inilah peran dan sosok pemikir independen yang kita perlukan, bukan yang lain. Kalau tak ada bagaimana? Mungkin inilah saatnya kita sendiri yang mengisi ruang kosong menjadi pemikir independen. Mungkin jalan sunyi, butuh nyali, tapi inilah jalan kontribusi menyelamatkan bangsa ini. Dengan pemikiran yang jernih, jujur, apa adanya.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok).