Menjadi Intelektual Parrhesia

kolom

Menjadi Intelektual Parrhesia
Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

Parrhesia: Berani Berkata Benar (2018). Judul buku terjemahan Haryanto Cahyadi, penerbit Marjin Kiri. Buku yang berisi kumpulan ceramah Michel Foucault. Seorang “intelektual militan” yang katanya giat berdemonstrasi menentang pelanggaran hak-hak asasi manusia. Bacaan awal tahun 2019 yang sepertinya bisa membuka mata, mengembalikan nyali, untuk berani mengatakan sebuah kebenaran. Apapun risikonya. Sebab, memutuskan diam berarti sebuah pengkhianatan.

Ya, sebuah pengkhiatan intelektual. Ketika kita bicara pengkhianatan intelektual, mau tak mau kita mesti kembali mengingat Julien Benda, penulis buku “”La Trahision Des Clercs” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan”. Cornelis Lay (2019), dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya di Fisip UGM sempat menyinggung karya Benda ini. Dikatakan bahwa Benda menggaris bawahi peran intelektual sebagai pencerah masyarakat. Dosa terbesar kaum intelektual tidak diperhitungkan berdasarkan jumlah kesalahan yang dibuat, tapi oleh kebohongan dan ketakutan dalam mengungkap kebenaran yang diketahuinya.

Saya kira, pemikiran tokoh di atas masih relevan untuk membicangkan kerja intelektual era sekarang. Seperti yang bisa kita rangkum dalam buku itu. Parrhesia umumnya diterjemahkan sebagai “berbicara bebas” (free speech). Sementara, sebutan parrhesiastes adalah orang yang menggunakan parrhesia, yaitu seseorang yang berbicara kebenaran. Dengan demikian, ia adalah orang yang menyatakan segala sesuatu yang dipikirkan, tidak menyembunyikan apapun, tetapi membuka hati dan pikiran sepenuhnya kepada orang lain melalui wacananya.

Tapi, apakah setiap orang yang menerapkan parrhesia layak dianggap parrhesiastes? Tidak. Seorang disebut parrhesiastes hanya jika terdapat risiko atau bahaya baginya dalam mengungkap kebenaran. Misalnya, seperti dicontohkan dalam buku itu, seorang guru tatabahasa mungkin menyampaikan kebenaran kepada anak-anak didiknya dan mungkin memang tidak diragukan lagi bahwa apa yang ia ajarkan ini benar. Tetap ia bukan parrhesiastes.

Namun, tatkala seorang filsuf berbicara dihadapan seorang penguasa, dihadapan seorang tiran dan menegaskan kepadanya bahwa tiraninya menggangu dan tidak menyenangkan karena tirani tidak sejalan dengan keadilan, maka sang filsuf telah berbicara benar, percaya bahwa ia telah berbicara benar, dan lebih dari itu, juga mengambil risiko (karena sang tiran dapat saja menjadi murka, mungkin menghukumnya, mungkin mengasingkannya, mungkin membunuhnya. Singkat kata, dia seorang parrhesiastes.

Lantas, apa maknanya sekarang? Kita merindukan intelektual semacam itu. Seorang parrhesiastes. Bukan intelektual yang memilih jalan aman dengan berdiam, padahal ia tahu akan kebenaran tapi tak berani mengungkapkannya. Karena takut, karena tak punya nyali, karena khawatir “dapur tak ngebul”. Maka, alih-alih kita mencaci, mencemooh mereka yang berani bersikap kritis kepada penguasa, berani mengkritik penguasa, sudah sepantasnya, kita justru mengucap beribu terimakasih kepadanya. Para intelektual parrhesia. Kenapa? Karena mereka inilah yang berani menyalakan akal sehat ditengah ancaman yang setiap saat bisa menyergapnya tanpa ampun. []