Menjadi Ayah Komunikatif

Kolom

Apakah jadi ayah ini mimpi saya? Tidak. Dulu saya tipe orang yang suka hidup sendiri. Semua hal saya kerjakan sendiri. Tapi, tiba-tiba kenal seseorang, menikah lalu punya anak. Jadi ayah. Tak banyak persiapan. Ilmu menjadi orang tua minim. Tak pernah ikut seminar, talkshow atau baca buku-buku parenting sebelumnya. Hasilnya, kekacauan itupun tiba. Satu diantaranya, komunikasi saya yang buruk.

Ironis memang. Bertahun-tahun belajar Ilmu Komunikasi tapi praktiknya buruk. Mungkin benar kata orang, masalah paling mendasar orang komunikasi itu satu, tak komunikatif. Mirip lelucon tentang budayawan yang bisa ngomong apa saja, kecuali tentang budaya itu sendiri. Mau tak mau, saya belajar bagaimana menjadi ayah komunikatif dari nol. Agar kejadian-kejadian “lucu” tak terulang lagi.

Suatu ketika, saya pulang kerja, buka pintu. Masyaallah, rumah berantakan semua. Semua buku koleksi saya di rak dihabur-hamburkan memenuhi seisi lantai. Saya sampai kesusahan masuk. Semua saya bereskan. Sampai pengakuan itupun tiba, “Habis ayah di depan laptop melulu, aku nggak diperhatiin.” Baiklah. Memang sih, 80 % pekerjaan saya di depan laptop. Terlepas dari itu saya merasa gagal mengomunikasikan apa yang sedang dikerjakan dan kapan selesainya, termasuk waktu untuk sekadar ngobrol bersama. Harusnya itu dikomunikasikan.

Hadir dua anak. Artinya lebih seru lagi. Bangun kedekatan, biasanya lebih sering anak-anak saya ajak ke taman. Kadang gantian. Misalnya saya jalan berdua sama anak pertama saya Jingga Kanaya (4,5 tahun). Jalan berdua, ngobrol berdua. Beberapa hari berikutnya berdua sama Java Profetika (2,5 tahun). Asyik aja. Biasanya anak-anak mulai berani jujur ungkapkan isi hatinya ketika hanya berdua gitu. Sebelum tidur, sebisa mungkin tak lupa mendongeng (bercerita) untuk mereka walau sering kehabisan bahan, terutama cerita-cerita lucu. Ini komunikasi kecil yang saya lakukan.

Hasilnya, anak-anak menjadi dekat. Saat saya berangkat kerja disalamin anak-anak “Moga dapet banyak rezeki ya yah, cepet pulang kalau sudah selesai” kata mereka. Bismillah. Selepas pulang, selalu disambut anak-anak. Berlarian dan kita pelukan. Hilang sudah lelah dan penat seharian berpikir, bekerja plus menyiasati kemacetan Jakarta-Depok. Tengkyu jagoan kecilku.

Terkait dengan doktrin komunikasi seperti apa, lagi-lagi saya tak bisa lepas dari doktrin profetik yang sejak dulu saya kagumi. Sampai untuk mengingatnya, saya beri nama belakang anak “Profetika”. Agar apa yang saya jalankan selaras dengan doktrin kenabian (prophet). Ya, berharap dan bermimpi kan boleh-boleh saja. Diranah akademis, kajian tentang ilmu sosial profetik memang sudah begitu banyak digali orang. Tapi, diranah keseharian yang praksis, lebih khusus lagi diranah pengasuhan sepertinya belum banyak diperbincangkan.

Doktrin komunikasi profetik dalam pengasuhan kita mulai dari melacak gagasal awal Prof. Kuntowijoyo (alm). Pertanyaan awalnya, apa sih yang jadi sumber awal pengetahuan? Dari sini, kita akan sampai pada dua kutub. Plato bilang kalau ilmu pengetahuan itu datangnya dari pikiran (rasio), sementara Aristoteles lain lagi, nggak dong, ilmu pengetahuan sumbernya dari pengalaman (empirisme). Hasilnya apa dari keduanya? ilmu umum yang sekuler. Rasio saja artinya menafikan Tuhan, pengalaman saja artinya materealistis. Keduanya problematis

Nah, doktrin pengasuhan profetik lain. Menempatkan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan. Menempatkan rasio (akal) dan empiri (pengalaman) sewajarnya. Yang utama tetap wahyu. Kita bisa menjadikan Alquran untuk menafsirkan realitas, begitu juga menjadikan Alquran sebagai sumber bagi kita untuk membentuk konstruksi realitas. Begitulah doktrin ini saya pahami dan sedang saya praktikkan saat ini. Memang ini baru dasar filosofinya saja.

Contoh praktiknya bagaimana?

Kita petik sebuah ayat dari Alquran Surat Ali Imron ayat 110

“Kamu adalah umat terbaik yang di lahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang Maruf dan mencegah yang Munkar,dan beriman kepada Alloh”

Sebagai umat terbaik, ada tiga pilar di situ, menyuruh kebaikan alias amar makruf (humanisasi), mencegah kemungkaran alias nahi munkar (liberasi) dan menyuruh beriman kepada Allah (transendensi).

Ilmu umum memang mengajarkan kebaikan, cegah kemungkaran. Dalam kasus kebakaran hutan misalnya. Saya ceritakan kepada anak, kasihan binatang pada lari dari hutan karena rumahnya kebakaran, terus mereka jadi nggak punya rumah dan gak punya makanan. Penduduk sekitar hutan juga kasihan, jadi kena kabut asap. Makanya hati-hati kalau main api nanti bisa bikin kebakaran, atau yang niat bakar hutan itu orang jahat. Sampai sini, ilmu pengetahuan umum, pengalaman, rasio bisa masuk.

Tapi, apakah salat minta hujan (istisqa) disentuh oleh ilmu pengetahuan umum yang cenderung sekuler itu? Tidak. Apakah doa minta kepada Allah agar binatang dan manusia yang terdampak diberikan keselamatan juga disentuh ilmu pengetahuan umum? Tidak. Mungkin manusia bisa seolah arogan bisa buat hujan buatan. Tapi, memadamkan api tak lepas dari kuasa Tuhan. Begitulah doktrin komunikasi profetik mengajarkan.

Singkar cerita. Menjadi ayah komunikatif itu sulit. Tapi sulit itu kategori bisa. Asal kita tahu caranya. Yang penting saat ini, minimal pada kesempatan kali ini, sumber pengetahuan utama sebagai doktrin komunikasi sudah kita pegang. Selebihnya, akan saya ceritakan dilain kesempatan [Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok]