Mengisi Seminar “Kreatifitas Media Berbasis Budaya” di STEI Tazkia Bogor

Kolom

Yons Achmad 1
WA saya menyala “Mas apa bisa mengisi seminar kebudayaan di STEI Tazkia Bogor” Tanya Fajar anak BEM kampus itu. “Boleh Bro” saya mengiyakan. Lalu kami ngobrol-ngobrol tentang materi yang ingin disampaikan dan juga target peserta sekitar 200 orang.

Karena saya orang yang kerkecimpung dalam media, saya mengusulkan sebuah judul presentasi “Kreatifitas Media Berbasis Budaya” . Tentang bagaimana kita mengeksplor budaya di negeri ini dengan idealisme mengenalkannya kepada masyarakat kita dan juga di luar negeri. Disepakati, lalu beberapa hari kemudian saya presentasikan ke sekira 150-an mahasiswa dan pelajar yang hadir.

Saya katakan dalam presentasi itu untuk bisa berbuat demikian, mengenalkan kebudayaan kita, langkah pertama tentu saja mindset dan rasa kecintaan yang tinggi terhadap budaya sendiri. Dengan ilustrasi yang agak berbeda temanya saya mencontohkan bagaimana “Fransoa” group musik Punk Prancis membuat lagu berjudul “Aku Lapar” dengan mengenalkan makanan-makanan yang ada di Indonesia, sekitar 43 jenis makanan dalam lagu itu. Mulai dari bakso, mie ayam, pempek, sayur lodeh, krupuk dll. Video itu bisa kita cari dan saksikan di Youtube. Saya katakan ini sebuah ironi, kenapa justru orang asing yang mengenalkan dan membuat lagunya? Kenapa bukan kita sendiri?

Lalu, materi disambungkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Saya katakan, MEA barangkali konsepnya ideal, tapi mahasiswa seharusnya juga bisa bersikap kritis, terutama melihat kesiapan bangsa ini, negara ini, yang saya berasumsi tak ada persiapan sama sekali. Hasilnya, alih-alih bisa bersaing, Indonesia hanya dijadikan pasar saja dalam MEA ini. Ada sekitar 616 Juta orang dalam MEA. Uni Eropa saja hanya 550 jutaan. Bayangkan sekitar 250 juta masyarakat Indonesia hanya dijadikan pasar? Tentu mengerikan. Walau untuk memberikan rasa optimis kepada mereka kalau punya skill dan pengetahuan bahasa (asing) yang baik, terutama Inggris, kita tetap bisa bersaing.

Lalu bagaimana dengan kreatifitas media berbasis budaya? Saya mencontohkan misalnya lagu Jogja Istimewa yang dibawakan Hip Hop Foundation Jogjakarta. Walau mengaku Hip Hop, mereka memakai Batik dalam kostum video klipnya, juga banyak menggunakan bahasa Jawa dalam syairnya. Itu salah satu kreatifitas media berbasis budaya juga. Apalagi mereka juga memanfaatkan saluran Youtube untuk mempopulerkan karyanya.
Kemudian apa bentuk konkrit kreatifitas media berbasis budaya? Saya menyarankan untuk membangun misalnya:

1. Situs-situs berbasis budaya
2. Video-Video Pendek Kreatif Berbasis Budaya
3. Game/aplikasi berbasis budaya
4. Film-Film yang mengangkan kearifan lokal semacam animasi “Keluarga Somat”
5. Lagu-lagu etnik dengan sentuhan modern

Saya katakana percuma kalau semua itu hanya wacana. Maka saya tantang mereka setelah seminar ini bisa misalnya membuat blog/situs atau video-video pendek. Langkah konkritnya, mengupload acara Festival Budaya yang mereka selenggarakan ini. Upload di Youtube, barangkali banyak peminatnya. Selain bisa mengenalkan budaya ke pihak luar juga bisa nantinya dikembangkan dengan model bisnis salah satunya melalui “Google Adsense”. Itu langkah sederhana dan konkrit yang bisa dikerjakan.

Selanjutnya menyusul sesuai dengan kemampuan dan skill teknis yang dimiliki. Begitulah kira-kira sedikit yang bisa saya sampaikan dalam forum kreatif itu. Sederhana memang, tapi kalau dikerjakan, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Lagi-lagi kata kuncinya adalah “Action”. Terimakasih panitia yang sudah memberikan kesempatan berbagi, juga peserta yang telah hadir di kampus dengan bangunan mewah itu. Semoga bermanfaat. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).