Mengibarkan Kebudayaan Tauhid

kolom

Mengibarkan Kebudayaan Tauhid
Oleh:Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

Menteri Agama bersedia mengevaluasi pendidikan agama agar lebih sinergis dan harmonis dengan pengembangan budaya. Pengakuan ini disampaikan oleh Oman Fathurahman, Guru Besar UIN Jakarta sekaligus Staf Ahli Menteri Agama RI (Kompas/9/11/18). Alih-alih melahirkan harmoni agama dan budaya yang melahirkan peradaban, saya kira cara berpikir demikian mesti juga dievaluasi. Kenapa? Sebagai Menteri Agama, seharusnya perspektif agama yang dikedepankan, bukan tunduk kepada kebudayaan, apalagi setuju agama dipoles-poles agar selalu selaras dengan pengembangan budaya. Logika yang kebolak-balik.

Dengan logika dan cara berpikir demikian, maka kita lihat saja hasilnya. Misalnya, dalam kasus sedekah laut. Perspektif budaya merasa sah-sah saja manusia memberikan sedekah kepada laut. Para budayawan juga punya perspektif sendiri bahwa itu kebudayaan, sudah turun temurun begitu. Sedekah laut juga bukan berarti orang menyembah laut, tapi bentuk rasa terimakasih kepada Tuhan, pencipta laut dan manusia itu sendiri. Maka, mereka yang mencoba membubarkan acara sedekah laut harus ditangkap karena tidak pro kebudayaan, tidak pro keragaman.

Sementara, dalam perspektif agama khususnya Islam, tentu lain. Kebudayaan, apapun tentu mesti tunduk pada nilai-nilai keagamaan, salah satunya tentu tunduk pada dimensi Tauhid. Perspektif demikian, saya kira tidak akan menghancurkan kebudayaan, tetapi justru akan memberikan warna tersendiri bagi peradaban. Alih-alih sedekah kepada laut, tentu alangkah lebih mulianya misalkan dikembangkan menjadi sedekah sesama manusia, sedekah kepada sesama makhluk Tuhan. Mungkin, ada yang ngotot tak bisa begitu karena kebudayaan sedekah laut dari dulunya seperti ini. Nah, argumen ini juga kurang pas, kenapa? Bukankah kebudayaan juga perlu dikembangkan?

Soal kebudayaan yang berdimensi Tauhid ini, ada sebuah cerita. Di kampung halaman saya, Magelang, Jawa Tengah, ada kebudayaan yang sampai saat ini masih lestari. Salah satunya kesenian Jatilan atau Kuda Lumping. Dulu setiap pentas, pemainnya kesurupan, dan memang diseting begitu. Kini, tak begitu lagi. Dengan hadirnya dakwah kultural berdimensi Tauhid, kesenian tetap lestari tanpa ada pemain yang kesurupan-kesurupan lagi. Kesenian fokus kepada keindahan tarian, pakaian dan pernak-pernik pendukung lainnya. Di lain sisi, ketika dulu pemain perempuannya kadang hanya memakai celana pendek, kini banyak yang sudah memakai celana panjang? Apakah ini berarti anti kebudayaan? Tentu tidak, justru kebudayaan berdimensi tauhid ini menjadikanya lebih beradab.

Kini, kita memerlukan pencerahan demikian. Pun kini, kita juga memerlukan budayawan yang bertauhid. Mereka yang punya pengetahuan budaya, mereka yang berkecimpung dengan kebudayaan, tapi tak anti pati terhadap agama. Tak menghadap-hadapkan antara agama dan kebudayaan. Kenapa? Karena kebudayaan yang mau berdamai dan selaras dengan agamalah yang bisa memunculkan peradaban. Bukan kebudayaan yang memaksa-maksa agama untuk mengakui keberadaannya.

Budayawan semacam inilah yang kita perlukan sekarang. Yang, menurut Prof. Dr. Abdul Hadi W.M dalam bukunya “Cakrawala Budaya Islam” (2016), mereka adalah seseorang yang sanggup menggunakan peralatan akal dan kalbunya, bisa menerobos dinding keras dunia bentuk-bentuk, yakni “yang banyak” kemudian dapat menemukan hakikat keindahan Yang Satu. Dia berada diambang musyahadah, perenungan dan penyaksian bahwa Tuhan itu satu. Budayawan atau seniman yang telah mencapai musyahadah inilah yang akan selalu menghasilkan karya-karya inspiratif dan memberikan makna bagi penikmatnya.

Saya kira, kebudayaan plus budayawan yang bertauhid inilah modal besar bangsa Ini. Ketika sekarang banyak orang meributkan kita tak punya strategi kebudayaan. Yang, dengannya menjadikan tak jelas ke mana kapal besar bangsa ini akan berlayar, maka sudah sejatinya kita kembali kepada jati diri. Kita adalah bangsa yang berbudaya. Tentu saja dengan ragam kebudayaan yang dibangun oleh nilai-nilai religiusitas keagamaan dimana sudah mengakar sejak lama. Inilah kunci bagaimana strategi kebudayaan mesti kita bangun, agar kita bisa melesat menjadi bangsa yang unggul dan bisa berkiprah dibelantara peradaban dunia. []