Menghidupkan Kembali Eramuslim

kolom

Menghidupkan Kembali Eramuslim
Oleh: Yons Achmad*

Situs Eramuslim, dulu memang sempat jaya, walau akhirnya mengalami penurunan. Saya ingin mengenangkan kembali situs itu. Setelah tempo hari ada nyinyiran. Yang coba mencitrakan buruk. Coba membuka aib situs itu, walau kemudian, yang terjadi malah serangan balik ke dirinya. Dilakukan oleh Savic Ali, Direktur Nu Online sekaligus pimred Islami, media Islam ekslusif untuk pembaca di kalangan NU. Sebuah contoh buruk tuduhan yang “Tidak Islami”.

Eramuslim. Dari data yang pernah saya baca. Berdiri 1 Agustus tahun 2000. Hadir sebagai media online berita pertama di Indonesia. Sepuluh tahun kemudian, sekira tahun 2010 sepertinya media ini berada pada puncak kejayannnya. Saat berada di bawah kepemimpinan Ustad Mashadi, mantan anggota Komisi I DPR dari partai Keadilan yang hidupnya dikenal sederhana.

Awalnya, hanya berisi beberapa rubrik saja. Seperti “Ustad Menjawab”, “Konsultasi Syariah” dan rubrik “Keluarga”. Sampai kemudian berkembang menjadi 70 rubrik. Yang pada akhirnya situs itu telah dibaca oleh pengunjung dari 123 negara. Untuk kontennya, 70% adalah berita luar negeri dan 30% berasal dari konten lokal. Di masa kejayaannya, kita tahu, masjid-masjid sering “Ngeprint” artikel atau berita di Eramuslim untuk ditempel di majalah dinding masjid. Selain menampilkan berita dunia Islam yang tak diberitakan media lain. Rubrik “Oase Iman” sepertinya juga pernah menjadi rubrik yang paling digemari pembaca.

Modal awal pembuatan Eramuslim hanya 10 juta saja. Tapi, perkembangan selanjutnya, sepuluh tahun kemudian, aset Eramuslim telah menjadi 5 milyar. Memang, pembaca Eramuslim adalah mereka yang terkait secara emosional dengan agama Islam. Dalam arti mereka yang punya ghiroh besar terhadap umat Islam. Menjadikan, media itu memang sangat ideologis. Untuk pembacanya. 70% laki-laki di bawah usia 40 tahun dan siasanya perempuan. Kalau dipetakan secara ideologis, pembaca Eramuslim kala itu adalah mereka yang punya komitmen Islam yang baik. Militan. Termasuk di dalamnya, para aktivis dakwah kampus.

Bagaimana dengan arus kas situs itu? Untuk operasional perbulan mencapai 100 juta. Untuk pendapatan, sebagian besar berasa dari iklan dan produk buku serta merchandise. Di tahun 2011 pengiklan mencapai 400 klien. Pengiklan paling besar berasal dari perbankan syariah yang mencapai 60 %. Itu capaian Eramuslim di masa jayanya. Sebuah kenangan yang perlu digelorakan kembali.

Kini, saya kurang tahu perkembangan bisnis Eramuslim. Yang saya tahu, walau terlihat agak menurun, sepertinya pihak redaksi dan manajemen masih ingin bertahan menghidupkan Eramuslim. Sekarang, pertanyaannya? Bagaimana publik (umat Islam) bisa berkontribusi menghidupkan media-media Islam. Tak lain ya beriklan di media Islam.

Kita seringkali banyak menuntut jurnalis-jurnalis Islam, media-media Islam untuk bersikap profesional dalam menjalankan profesinya. Sayangnya, kita sering abai dalam melihat roda bisnisnya. Untuk itu, kepedulian kita, terutama para pebisnis dan pengusaha muslim untuk menopang media-media Islam diperlukan. Termasuk saat ini, media Islam “di bawah” Forum Jurnalis Muslim (Forjim) atau Jurnalis Islam Bersatu (Jitu). Beriklan di media itu. Ya, Ini kontribusi nyata kita demi majunya media Islam. []

Depok, 28 Februari 2018.

*Pengamat media. Founder Kanet Indonesia.