Membangun Komunitas Literasi Terpadu

Kliping

MEDIA literasi pada era digital atau revolusi industri 4.0 mengalami pergeseran paradigma dalam hal desiminasinya. Wahana cetak yang sebelumnya umum digunakan, secara cepat beralih ke wahana dalam jaringan (daring) yang bisa diakes oleh semua kalangan. Kalau sebelumnya media cetak seolah mejadi identitas kalangan dewasa (orang tua), sekarang media daring seolah menjadi milik semua kalangan, dari anak-anak sampai orang tua. Kemudahan akses demikian tentu saja memberi pengaruh: baik, kurang baik, tidak baik. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan anak, perubahan ke era digital memberi pengaruh yang sebagian besar dianggap kurang baik. Konon, sebagian besar perubahan tersebut terjadi karena rendahnya kemampuan literasi anak.

Literasi memang menjadi salah satu kata kunci yang pada tahun-tahun terakhir mendapat perhatian khusus dari pemerintah, baik yang dilakukan secara integratif melalui program belajar formal maupun yang nonformal. Literasi menjadi salah satu penguatan bangsa dalam bidang pendidikan yang disinyalir akan memengaruhi aspek lain, khususnya penguatan karakter bangsa dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Literasi juga dianggap sebagai salah satu parameter kesuksesan pendidikan sekaligus sebagai penanda kualitas sumber daya manusia (SDM) di sebuah negara.

Sebagai fondasi dasar dari pendidikan, patut disadari bahwa kemampuan literasi anak pada tahap awal (khususnya di SD) merupakan penentu keberhasilan dalam kegiatan belajar peserta didik. Kemampuan literasi tahap awal dianggap sebagai prasyarat yang mendasari penguasaan kemampuan lain pada tahap selanjutnya. Bagaimanapun, penguatan literasi yang tepat akan menunjang kemampuan berpikir tingkat tinggi di tahapan perkembangan .

Sayangnya, jika berbicara tentang literasi, seolah hanya menjadi tugas dan tanggung jawab lembaga pemerintah melalui jalur pendidikan formal dan informal. Seolah menjadi rumus, jika kemampuan literasi anak maka bisa dipastikan sekolahnya belum mengimplementasikan penanaman literasi dengan baik atau dengan kata lain, sekolah kurang bagus. Padahal ibarat dua kaki, jika hanya satu yang berfungsi, maka pijakan tidak akan kuat.

Pandangan tentang penguatan literasi merupakan dominasi sekolah inilah yang membuat para orang tua kebingungan, bagaimana dan apa yang harus dilakukan agar minimal anak gemar membaca. Banyak orang tua mencari formula yang tepat tentang penguatan literasi untuk anakanak mereka (yang menyadari maka akan mencari: yang tidak menyadari hanya akan pasrah kepada sekolah).

Berjalan di Tempa

Inilah yang membuat penguatan minat membaca anak seolah masih berjalan di tempat. Sekolah dengan jumlah muridnya yang lebih dari satu tentu saja tidak akan bisa secara intensif menanamkan minat baca tanpa ada dukungan dari keluarga, khususnya orang tua.

Penguatan literasi sejatinya bukan menjadi beban dan tugas satu lembaga saja. Perlu sinergi terpadu agar hasil yang diharapkan bisa tercapai dan tepat sasaran. Membangun komunitas lietrasi terpadu melalui peran guru di sekolah dan orang tua di lingkungan keluarga menjadi keniscayaan yang harus dilakukan.

Pada prinsipnya, membangun komunitas literasi terpadu adalah satu strategi yang melibatkan peran guru dan orang tua sebagai motivator dan fasilitator yang memiliki peran integratif saling mendukung dalam menguatkan kemampuan multiliterasi yang melibatkan penguasaan kognitif, psikomotorik, dan afektif secara optimal berbasis nilai-nilai pendidikan karakter. Prinsip pengembangan komunitas literasi terpadu antara sekolah dan lingkungan keluarga bisa dilakukan melalui beberapa hal yang tentu saja harus disesuaikan dengan perkembangan dan pola kecerdasan anak.

Pertama, pengarahan aktivitas. Pada tahap awal pendidikan literasi, langkah ini menjadi penting untuk mengenalkan anak tentang muatan dan bentuk literasi. Di antara contoh paling sederhana adalah berbagi kenikmatan tentang buku dan menunjukkan bagaimana bahasa dapat ditulis dengan huruf sehingga orang lain bisa membaca apa yang telah kita tulis. Orang tua justru menjadi barometer utama dalam pengenalan literasi tahap awal. Hal yang paling penting adalah pengarahan aktivitas yang membuat anak nyaman dan senang berinteraksi dengan buku dan senang menerima informasi dari buku.

Pengarahan aktivitas lebih ditekankan bahwa anak usia dini khususnya, belum begitu memedulikan apa yang diperlajari dan apa yang didapatkan.

Kedua, pemilihan bahan. Pemilihan dan penyiapan bahan pembelajaran menjadi aspek penting bagi guru dalam proses penguatan literasi. Ini juga bagian penting dari orang tua khususnya dalam pemilahan.

Ketiga, komunikasi literasi. Bagian ini adalah bagian gayut sambut antara informasi yang sudah didapat di sekolah dan di rumah. Dengan kata lain, informasi yang didapat di sekokah, sebaiknya dikuatkan di rumah dan informasi yang didapat anak di rumah, dikuatkan oleh guru di sekolah. Penguatan itu dilakukan dengan memberikan pertanyaan yang linier dan sifatnya umpan balik atau tindak lanjut. Respons yang berkesinambungan membuat peta konsep siswa tentang sebuah informasi semakin bermakna.

Keempat, penguatan latar multiliterasi. Bagian keempat ini adalah daya dukung yang secara tidak langsung akan memberikan penguatan literasi. Dengan latar atau setting pendukung yang tepat, maka literasi akan meningkat. Bukan lagi menjadi paksaan, melainkan sudah menjadi kebiasaan, bahkan kebutuhan. (40)

U’um Qomariyah SPd MHum, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang. (Sumber: Suaramerdeka.com/8/11/18)