Mafia Beras: Dibalik Berita Beras Langka Pasti Ada Mafia

Mafia Beras

Beberapa hari terakhir, merebak berita beras langka. Akibatnya, harga menjadi melonjak cukup tinggi. Tentu saja, berita demikian sungguh memprihatinkan. Kita, negeri yang menghampar luas sawah dan ladang pertaniannya, ternyata masih saja kekurangan beras. Entah apa penyebabnya.

Penasaran, saya mengecek sendiri harga beras di pasar. Dan memang benar, sebagai contoh harga beras yang sebelumnya hanya Rp. 8.500 melonjak menjadi Rp. 11.000, sedangkan harga beras dengan kualitas bagus, dari harga Rp 9.500 menjadi Rp. 12.000. Tanpa analisis dengan teori ekonomi yang tinggi, tentu saja kenyataan demikian sangat memberatkan. Ya, rakyat yang hidupnya masih banyak kesusahan, ditambah dengan harga kebutuhan pokok yang mencekik, tentu bukan kabar baik.

Yang menjadi persoalan kemudian. Ada dugaan, fenomena ini tak sekedar menjadi kabar naik turunnya harga di pasar yang wajar. Tapi, memang sengaja diciptakan untuk mengeruk keuntungan finansial tertentu. Merekalah yang kemudian sering disebut sebagai mafia beras. Memang, pemerintah sendiri, melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla membantah adanya mafia beras. Tapi, siapa sih sekarang yang percaya kata orang pemerintahan?

Saya tentu tak bicara soal kebijakan pangan dan sebagainya. Tapi, saya sekedar tertarik dengan komentar Jusuf Kalla di berbagai media. Yang mengatakan tidak ada mafia. Justru, di sinilah menariknya. Dengan pernyataan demikian. Pernyataan bantahan yang tanpa argumen meyakinkan, justru bisa menarik perhatian orang media, para pekerja media untuk melakukan investigasi mendalam terkait dengan persoalan ini. Saya sendiri yakin dan punya asumsi, dibalik berita beras langka pasti ada mafia. Siapa mereka? Barangkali memang tugas pers/media untuk mengungkapnya. Kita tunggu saja kabar media selanjutnya. (Yons Achmad/Kanet Indonesia).

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.