Media “ Menggoreng” Isu ISIS, Siapa Diuntungkan?

Kolom

Literasi Media
Ditengah kebobrokan penguasa yang semena-mena terhadap rakyatnya justru ironi terjadi. Media tak banyak menyiarkan aksi-aksi mahasiswa yang begitu heroik mengkritisi penguasa. Tapi justru sibuk “menggoreng” isu lain yang mungkin memang penting tapi sudah terlalu berlebihan. Entah, politik media apa yang merasuki para pengelola media itu. Yang pasti debat publik sekarang tak fokus pada mengkritisi penguasa, tapi disibukkan dengan perbincangan soal ISIS.

Tentang ISIS sendiri, barangkali memang fenomena global. Sama dengan isu-isu terorisme yang dilancarkan Barat (Terutama Amerika Serikat). ISIS saat ini digambarkan sebagai kelompok bengis yang tak segan-segan membunuh siapa saja yang berseberangan dengan kelompoknya. Itu fenomena yang selalu disiarkan media, fenomena di Suriah sana. Seperti biasa, media kita begitu tergopoh-gopoh dibuatnya. Nah, sebenarnya, siapa yang diuntungkan ketika media “Menggoreng” isu ISIS ini?

Pertama. Pemerintahan Jokowi. Pemerintahan Jokowi yang terbukti tidak becus mengurus negara ini adalah pihak yang paling diuntungkan. Dengan adanya isu ISIS, pemberitaan-pemberitaan tentang ISIS ini otomatis menghabiskan ruang dan menggusur pemberitaan lain. Aksi-aksi mahasiswa tertutupi. Masyarakat yang sekarang ini begitu tercekik dengan kenaikkan harga bahan pokok, listrik, gas, angkutan dll tak begitu terekspose. Padahal, kondisi rill masyarakat bawah kita begitu memprihatikan. Dan pemerintahan kita mengambil untuk dari pemberitaan ISIS ini sebagai “Pengalihan Isu” atas bobroknya pemerintahan kita.

Kedua. Kelompok Deradikalisasi. Mereka adalah lembaga-lembaga yang hidup dari donor dan “gorengan” isu radikalisasi atau terorisme. Para pengamat terorisme tiba-tiba bermunculan, padahal kita sering tak mengerti atas dasar apa mereka mengaku sebagai pengamat. Juga agenda-agenda, program-program lantas begitu gencar dilakukan. Dengan alasan sebuah ketakutan-ketakutan yang mengada-ada tentang gerakan ISIS yang konon bisa mengancam NKRI. Dengan motif “Nasionalisme Palsu” itu mereka mengambil keuntungan.

Ketiga. Kelompok Liberal. Ini kelompok yang pintar memelintir dan memanfaatkan isu agama untuk kepentingannya. Kelompok ini juga diuntungkan. Dengan adanya isu ISIS biasanya mereka lantas mengadakan diskusi-diskusi tentang Kebinekaan, tentang keberagaman, plus menyelipkan isu-isu tentang pluralisme. Tak cukup dengan itu. Mereka biasanya menggembosi ajaran jihad dalam agama Islam. Mencemooh ajaran Jihad. Padahal dalam Islam Jihad itu ada dan dengan jihadlah benteng terakhir perjuangan itu dilekatkan. Benar bahwa Islam (umat Islam) perlu melawan terorisme tapi menghilangkan ajaran Jihad dan implementasinya dalam keseharian adalah tindakan yang tidak tepat.

Kira-kira ketiga kelompok itu yang diuntungkan dengan adanya isu ISIS yang “digoreng” media ini. Lagi-lagi, publik harus bisa membaca dengan cerdas upaya-upaya “rekayasa media” demikian ini. Isu isis barangkali memang perlu kita perbincangan. Tapi, yang paling penting, jangan sampai melupakan perbincangan, debat publik atas kebobrokan pemerintahan. Segala kebohongan penguasa harus dibongkar sampai ke akar-akarnya. Kita harus tetap fokus melawan rezim pencitraan yang penuh dusta dan kebohongan. (Yons Achmad/ Pendiri Kanet Indonesia).