Pentingnya Komunikasi Empatik Pasca Lebaran

Komunikasi semacam apa yang perlu kita bangun pasca lebaran? Saya kira, tak lain tak bukan kita perlu bangun apa yang pakar Ilmu Komunikasi sering sebut dengan istilah komunikasi empatik.

Istilah empati sering dipopulerkan oleh ahli psikologi. Empati (empathy) berasal dari kata dalam bahasa Jerman Einfuhlung. Yang artinya merasa terlibat (feeling into). Dalam khazanah ilmu komunikasi strategis, praktik nyatanya adalah lebih banyak mendengarkan.

Saya kira, komunikasi empati ini relevan untuk dipraktikkan pasca lebaran. Caranya, sebelum berkomentar atas suatu hal, sebaiknya cukup informasi dan pengetahuan dari beragam sumber. Tak hanya satu sumber saja yang jadi rujukan.

Kita perlu lebih banyak membaca, menggali informasi. Dan yang lebih penting banyak-banyak mendengarkan. Seperti petuah Jalaluddin Rumi:

“Karena untuk berbicara
Orang harus lebih dulu
Mendengarkan,
Belajar bicara
Dengan mendengarkan”

Tak mudah memang. Saya sendiri sering gatel pingin komentari berita atau pendapat orang. Sampai saya tahan sedemikian rupa agar kalau memang terpaksa harus berkomentar setidaknya bisa menambah cara pandang baru, syukur-syukur bisa menambah pengetahuan.

Sulit memang. Tapi inilah jalan sunyi pencerahan. Hanya saja, saya selalu percaya bahwa sulit itu kategori bisa.

Baiklah. Kita sama-sama coba. Dan kita tunggu keajaiban apa yang bakal terjadi. []

Salam
Yons Achmad
Penulis Kreatif
Praktisi Komunikasi Strategis
Founder Kanetindonesia.com
WA: 082123147969

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.