Ketika Sastra Dibungkam, Jurnalisme Bisa Apa?

saut Situmorang

Penyair Saut Situmorang, akhirnya dijemput paksa polisi. Dari kediamannya di Jogjakarta. Terkait dugaan pencemaran nama baik dalam kasus buku “ 33 Sastrawan yang Berpengaruh”. Lagi-lagi UU ITE “memakan” korban. Padahal semangat undang-undang itu adalah untuk menjerat pelaku kejahatan dalam bidang perbankkan dan telekomunikasi. Apa boleh buat, ternyata undang-undang itu dipakai seseorang untuk menjerat seseorang lainnya. Selepas polisi Jakarta menjemputnya, Saut berkicau di Twitternya “Ketika Sastra Dibungkam, Jurnalisme Bisa Apa?

Sebagai orang yang sedikit punya ketertarikan di bidang media, saya tertarik untuk menindaklanjuti pernyataan Saut Ini. Sosok Saut sendiri adalah penyair yang vokal menentang masuknya Denny JA, tokoh yang dimasukkan dalam “33 Sastrawan Berpengaruh”. Penyair ini juga begitu lantang menyuarakan kekonyolan sastra yang sering dipertontonkan Komunitas Utan Kayu atau Salihara. Nah, terkait dengan pertanyaan spontan Saut itu, saya kira ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan Jurnalisme:

Pertama. Kembali membuka debat semangat UU ITE. Yang lebih fokus digunakan untuk mengatur beragam hal tentang informasi dan transaksi elektronik. Bukan untuk menjerat hal yang “remeh-temeh” seputar pencemaran nama baik. Sejarah undang-undang toh sudah menghapus misalnya aturan yang dinilai represif semacam “Pasal Penghinaan Presiden”. Ini yang perlu menjadi fokus debat publik dan pemberitaan media. Sekaligus menjadi momentum untuk mengkritisi UU ITE itu. Di ranah inilah jurnalisme bekerja. Mencerahkan publik tentang semangat awal lahirnya undang-undang ITE ini.

Kedua. Ketika Saut harus dipolisikan ketika menulis kata “Bajingan” di sosial media, jurnalisme juga tak boleh bungkam. Bayangkan dan buka mata, misalnya sudah berapa kata yang tak pantas diucapkan oleh pejabat negara. Semisal Gubernur Ahok. Kata “Bajingan” “Kampret Semua” “Taik Semua”, “Bangsat” sudah berkali-kali muncul dari mulut “Knalpot” Ahok itu. Dalam kasus ini jurnalis/wartawan rasa-rasanya memang perlu mengaitkan korelasi keduanya disambungkan dengan debat soal UU ITE itu.

Ketiga. Kritis terhadap standar ganda kelompok liberal. Yang paling bersorak atas penangkapan Saut ini salah satunya dari kelompok liberal, TUK dan Salihara. Gerombolan-gerombolan tengik liberal itu begitu gencar menyerang Saut Situmorang yang dituduh telah melakukan “Kekerasan Verbal” terhadap perempuan. Terlihat heroik memang. Tapi, semua orang tahu, mereka bungkam ketika Sitok Srengenge, penyair yang berada dilingkungan TUK dan Salihara memperkosa perempuan. Jurnalisme harus membongkar semua itu.

Begitulah saya kira bagaimana jurnalisme punya peran meluruskan kesemratutan dalam kasus ini. (Yons Achmad/ CEO Kanet Indonesia).

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.