Ketika Media Remehkan Aksi Mahasiswa , Tunggu Saja Akibatnya

Kolom

Turunkan Jokowi
Bagaimana ketika media meremehkan aksi mahasiswa? Malah bagus. Itu justru menjadi cambuk, menjadi penyemangat agar mahasiswa lebih serius lagi menggalang kekuatan massa. Seperti yang kita saksikan melalui sosial media dan media-media alternatif kontra penguasa. Begitu marak aksi mahasiswa di berbagai kampus dengan ratusan massa yang mencoba mengkritisi pemerintahan Jokowi. Ada yang masih “Sopan”, ada yang terus terang ingin menggulingkan Jokowi. Ada juga yang unik, seperti aksi mahasiswa Solo yang menginginkan Jokowi “Pulang Kampung” karena tak becus mengurus negara.

Sayangnya, realitas demikian tak ditayangkan oleh media-media “besar”. Lalu, apa masalahnya?

Sebenarnya, tak jadi masalah. Saluran informasi saat ini sudah begitu beragam. Tak melulu orang tahu informasi dari televisi atau Koran. Kini masyarakat begitu mudah mengetahui informasi melalui internet. Jadi, ketika penguasa mencoba “membungkam” media, dengan tidak menayangkan elemen mahasiswa atau masyarakat yang kontra, mereka yang coba kritis terhadap penguasa, itupun akan sia-sia. Ketidakbecusan mengurus negara, pencitraan yang penuh dengan kebohongan, akan begitu mudah kita temukan. Beragam kebobrokan pemerintahan Jokowi begitu berserakan, begitu mudah kita dapatkan. Apakah semua itu bisa ditutupi dengan membungkam media? Tidak bisa. Sekali lagi tak akan bisa. Penguasa tak akan bisa melakukannya.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan mahasiswa? Tentu perlu terus turun ke jalan mengkritisi penguasa. Juga, yang penting lagi adalah membangun argumentasi lebih meyakinkan lagi, membangun penyadaran terus menerus kepada publik akan kebobrokan penguasa. Memang akan sangat melelahkan. Tapi, apapun yang terjadi, kampanye publik atas kebobrokan penguasa perlu terus dilakukan. Biarkan media pro penguasa tertawa, juga “kecebong-kecebong” yang lupa asalnya bernyanyi riang diatas penderitaan rakyat. Tapi yakin saja, cepat atau lambat “pesta” mereka akan usai. Dalam perjuangan, mengkritisi penguasa yang zalim adalah kewajiban. Tumbang atau tidak itu persoalan lain. Demikian. (Yons Achmad/ Pendiri Kanet Indonesia).