Ketika Media Besar Melacur Inilah Akibatnya

Kolom

Tempo

Bulan Maret 2015 Dollar naik. Hampir tembus Rp 13.000. Kita teringat pada pemberitaan pilpres 2014 lalu. Setidaknya, ada dua media yang sempat memberitakan. Satu media online terkenal, satu media yang kesohor dengan majalah cetaknya. Kira-kira, judul beritanya berbunyi begini “Jokowi Presiden Dollar bisa tembus Rp 10.000” atau “Prabowo Presiden Dollar bisa Melonjak Rp 13.000”. Itu asumsi yang dibangun oleh kedua media tersebut.

Hasilnya? Asumsi pemberitaan sampai hari ini berbanding terbalik dengan kenyataan. Ternyata dalam kepemimpinan Jokowi yang belum setahun ini, dollar melonjak tajam, hampir tembus Rp 13.000. Kalau kenyataannya begini, bagaimana pertanggungjawaban media yang sempat memberitakan asumsi tersebut? Dalam kacamata studi media, bagaimana kita menafsirkan fenomena demikian?

Kita coba memakai beberapa konsep yang diajukan guru jurnalisme, Bill Kovach dalam bukunya “Blur”. Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana konsumen berita yang haus akan informasi meminta kepada jurnalisme (wartawan) untuk melakukan beberapa hal. Pada kesempatan kali ini kita lihat saja dua diantaranya:

Pertama: Authenticator. Yaitu Konsumen perlu wartawan buat memeriksa keautentikan suatu informasi, mana fakta benar, mana yang dapat diandalkan. Masyarakat tak melihat wartawan hanya sebagai penyedia informasi. Mereka memerlukan wartawan untuk menerangkan bukti dan dasar untuk memahami mengapa suatu informasi bisa dipercaya

Kedua: Sense Maker. Yaitu Jurnalisme juga cocok untuk memainkan peran sebagai sense maker, menerangkan sesuatu masuk akal atau tidak. Peran ini jadi penting karena sekarang banyak informasi lewat internet yang tidak masuk akal sehat. Kebingungan dan ketidakpastian lebih sering muncul. Bill Keller dari New York Times memakai istilah “tsunami informasi.” Pasokan informasi mbludak, masyarakat menjadi kesulitan untuk menyaring mana yang masuk akal, mana propaganda, mana tipu-tipu dst.

Sebenarnya ada delapan fungsi yang kemudian diterangkan secara apik oleh peneliti jurnalisme Andreas harsono seperti di atas. Nah, cukup dengan dua fungsi saja, kita bisa membaca bagaimana performa media yang terbukti melacurkan diri demi kepentingan kelompok tertentu.

Dalam kasus dollar tersebut rupanya kedua media besar itu tak perlu membeberkan apakah itu fakta, asumtif yang berpotensi benar di kemudian hari, juga apakah informasi itu bisa diadalkan. Seperti kita ketahui munculnya berita seputar “Jokowi Presiden Dollar Bisa Turun jadi Rp 10.000” dan “Prabowo Presiden Dollar Bisa Melonjak jadi Rp 13.000” hanya bersumber pada analisis yang bekerja pada bank asing. Rupanya tak peduli siapa analis/sumbernya. Yang penting informasi bisa untuk menghajar lawan (dalam hal ini Prabowo) maka hal itulah yang dilakukan. Mereka (wartawan) dalam hal ini telah gagal melakukan fungsi “Authenticator”

Dalam pisau “Sense Maker” mereka juga telah gagal. Mereka tak pernah berpikir panjang apakah informasi itu masuk akal atau tidak. Hasilnya apa? Seperti kenyataan sekarang ini. Jokowi Presiden dan ternyata oh ternyata, dollar tembus Rp 13.000. Fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai “Dosa Politik” media.

Nah, pesan moralnya, ternyata media dengan nama besar pun tak menjamin bahwa fungsi-fungsi jurnalisme bisa dijalankan dengan prosedur yang benar dan memadai. Ketika media besar sudah melacur, lihat sendiri akibatnya, seperti yang kita rasakan sekarang ini. Dalam kepemimpinan Jokowi. Dollar tinggi, harga beras mahal, listrik naik, ongkos angkutan umum naik, BBM naik. Barangkali memang benar, seperti kata banyak orang. Jokowi pemimpin yang banyak maunya, tapi sayang kemampuan tak ada. Kini, apa boleh buat: Tak ada yang bisa diharapkan dari pemimpin (boneka) semacam itu. (Yons Achmad/Pemerhati Media/CEO Kanet Indonesia).