Jurnalistik Berkonten Medsos

Kliping

TERBAYANG enaknya wartawan ini: berita yang dia tulis hanya meng-copy paste postinganpostingan status dan kicauan dua orang. Dirangkai dalam bentuk saling menanggapi pendapat, jadilah sebuah konstruksi ”berita” tanpa harus si wartawan itu mewawancarai dua orang ”narasumber”-nya.

Ya, memigrasikan konten media sosial menjadi karya jurnalistik, disadari atau tidak disadari, belakangan ini menjadi bagian dari tren yang terus bergerak. Konten status Facebook, Instagram, Twitter, dan yang lain dari sejumlah tokoh banyak terunggah dalam format sebagai berita di media-media arus utama.

Apakah tren formulasi ini akan benar-benar mencari bentuk atau hanya menjadi model perilaku berjurnalistik?

Produk jurnalistik asal media sosial itu berisikan pendapat, sanggahan, juga dukungan dan tentangan terhadap sebuah opini, yang bersumber dari aneka cuitan dan celetukan. Entah yang bernada bijak, datar, atau nyinyir. Misalnya status dan pendapat Mahfud MD, Fadli Zon, Rocky Gerung, atau siapa pun terhadap sebuah isu publik yang dikomentari oleh pengguna media sosial. ”Jawab-jinawab” itu, oleh penyusun berita, dikonstruksi seperti mekanisme konfirmasi check and recheck dalam kewajiban verifikasi berita. Sepintas, betapa mudah dan enak seorang wartawan menyantap materi berita tanpa harus bersusah payah memburu narasumber dan mewawancarainya. Seolah-olah pengguna medsos dengan opini atau sanggahannya ”sudah datang sendiri menyerahkan bahan-bahan” kepada kita.

Apakah mereka yang cuitan dan statusnya diformulasikan sebagai berita kemudian sadar dengan posisi masing-masing? Artinya, paham bahwa terjadi pergerakan perubahan bentuk dari kicauan di medsos menjadi berita untuk media mainstream, tentu dengan segala risikonya?

Etika Penyebaran

Etika penyebaran konten medsos setelah diunggah dan diformulasikan menjadi berita memang masih luput dari poin-poin Kode Etik walaupun tentu bisa ditafsiri secara mudah dari beberapa sudut pandang, antara lain soal pengujian akurasi.

Sama halnya ketika kita mempertanyakan bagaimana dengan konten mata acara sebuah stasiun televisi, misalnya fragmen perdebatan tertentu di Indonesia Lawyers Club yang direkam ke Youtube, lalu dari Youtube diangkat sebagai berita. Wartawan mudah memformulasikan berita anggitannya, karena banyak bahan dari stafus media sosial yang siap untuk disantap (atau malah menunggu disantap oleh media?). Masalahnya, apakah standar prinsip-prinsip jurnalistik berupa akuntabilitas, disiplin verifikasi, dan membangun kepercayaan publik bisa dipenuhi oleh praktik berjurnalistik dan bermedia yang seperti itu?

Saya melihat plus-minus dinamika bermedia sosial dan berjurnalistik dari fenomena ini. Plusnya, para pengguna media sosial akan terdorong untuk mematangkan diri, karena sadar tentang konsekuensi ucapan, status, dan opininya apabila diolah sebagai formulasi berita.

Mereka, terutama para tokoh publik harus memahami, bisa muncul pro-kontra terhadap pendapat- pendapat atau celetukannya. Celah sosial, politik, dan hukum bisa saja muncul. Makin banyak bahan dari status medsos yang diangkat menjadi berita dengan potensi risikonya, akan mendorong netizen berhati-hati untuk berucap dan menyuarakan pendapat apa pun. Setidak-tidaknya mendorong proses ke arah pematangan bermedia sosial. Negatifnya, praktik jurnalistik dengan olahan data sekunder itu membutuhkan keyakinan etis yang penuh konsiderans. Wartawan mendapat hanya semacam data kepustakaan, bukan bahan yang langsung dipetik dari hasil penggalian wawancaranya dengan narasumber.

Perilaku bermedia seperti ini sungguh instan. Tak berbeda dari model jurnalistik copy paste. Secara etis, andai narasumber menyatakan tidak menghendaki cuitan dan status medsosnya diolah menjadi berita, bagaimana menyikapi ini dari ranah hukum?

Apakah semua pendapat yang sudah tertayang di langit publik otomatis menjadi public property atau milik masyarakat yang boleh diambil dan dikelola menjadi apa pun?

Karya jurnalistik yang ”waton ambil bahan” itu tentu sulit dikategorikan memenuhi standar verifikasi pemberitaan.

Menghijrahkan konten medsos dalam formulasi berita akan lebih elegan dilakukan dengan menjadikan bahan itu hanya sebagai tambahan temuan informasi tentang sebuah isu publik.

Selanjutnya, prosedur mencari, mengolah, dan menyajikan berita tetap ditempuh lewat prosedur standar. Jadi, konten medsos sejatinya hanya merupakan bagian dari bahan besar penyusunan berita. (40)

—AmirMachmud NS,wartawan Suara Merdeka, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah. (Sumber: Suaramerdeka.com/25/8/2018).