Jurnalis dan Kepekaan Investigatif

MENJELANG peringatan Hari Pers 2019, pada era telekomunikasi yang berkembang pesat (Dewan Pers mencatat 2018 di Indonesia ada 47.000 media yang didominasi media online), dunia kewartawanan kita diwarnai sepercik kegundahan oleh kebijakan pemerintah yang memberikan remisi kepada I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuhan seorang wartawan di Bali, Gede Bagus Narendra.

Kegundahan itu diwujudkan dalam unjuk rasa di sejumlah kota besar, termasuk Semarang, minta remisi dicabut. Bagus Narendra ternyata dibunuh berkaitan dengan beritanya yang membongkar kasus korupsi. Nyoman Susrama yang dihukum seumur hidup diringankan menjadi hukuman 20 tahun. Lepas dari bagaimana respons pemerintah, kasus wartawan terbunuh atau dipenjara karena melaksanakan pekerjaannya terjadi di banyak negara. Ratusan jurnalis terbunuh atau dipenjara di negaranegara yang sedang berkonflik seperti di Suriah, Irak, Yaman, Afghanistan, Myanmar, Afrika, Meksiko, Tiongkok, Iran, dan Filipina.

Di antara jurnalis yang tewas terbunuh dan kasusnya menggemparkan dunia adalah Jamal Khashoggi. Dia adalah jurnalis Arab Saudi, kontributor The Washington Post yang sangat kritis terhadap pemerintah negara kaya minyak itu. Khashoggi dibunuh di Turki dan kasusnya sampai sedikit mengganggu hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat. Hingga kini siapa yang bertanggung jawab, belum jelas. Namun disebut-sebut mereka adalah bagian dari penguasa kerajaan.

Indonesia memang tidak sedang berkonflik, tetapi banyaknya kasus korupsi, penipuan berskala besar, peredaran narkoba, dan kasus lainnya memberi peluang para jurnalis untuk melakukan peliputan yang nyerempet-nyerempet bahaya bahkan bisa mengorbankan nyawanya. Bagus Narendra adalah salah satu contoh wartawan yang mengalami nasib tragis. Kita sering mendengar istilah crusading journalist atau crusading journalism, jihad jurnalis. Lo wartawan kok berjihad?

Ya, jihad dalam pengertian ”perang” melawan perbuatan melanggar hukum, perbuatan merugikan kepentingan umum. Dengan semangat jihad itulah seorang jurnalis berani menanggung risiko atas kerjanya, melakukan ivestigasi mulai dari melacak dan mengusut suatu kasus hingga menyiarkan di media massanya.

Peluang Investigasi

Investigasi yang berarti menyelidiki atau mengusut itu sudah tentu tidak hanya dilakukan para jurnalis untuk kasus-kasus korupsi dan kejahatan berat lainnya atau terjun di wilayah konflik bersenjata. Peristiwa biasa pun, misalnya kecelakaan lalu lintas akibat rem blong dengan korban banyak, pantas menjadi sasaran investigasi. Wartawan harus peka dan kritis mencari jawaban why dan how sampai bisa terjadi kecelakaan dan bagaimana akibatnya, termasuk soal perawatan para korban dan asuransinya. Intinya, semaksimal mungkin menggali fakta-fakta di balik fakta permukaan, sehingga tersaji laporan yang akurat, faktual, berimbang, aktual, dan lengkap. Jika kecelakaan itu merupakan kasus besar, misalnya kapal tenggelam atau pesawat jatuh, harus disajikan dalam laporan yang mendalam (investigative reporting) yang bisa saja berseri-seri. Ini merupakan kerja besar yang harus dipersiapkan matang dan kerja sama di lingkungan tugasnya.

Disiapkan berbagai keperluannya. Dalam era teknologi komunikasi demikian maju, kerja liputan wartawan banyak mendapat kemudahan. Dengan fasilitas drone, jangkauan liputan bisa lebih mudah, juga misalnya dalam mencari lokasi yang dikehendaki lewat fasilitas GPS. Dalam situasi sekarang, menjelang pilpres dan pileg, kepekaan wartawan tetap sangat penting.

Mereka diharapkan masyarakat ikut mengawasi agar pemilu berlangsung jujur dan adail. Sekali waktu terjunlah ke desa atau kelurahan. Tangantangan para caleg sedang giat berusaha ”menebar senyum” menjaring dukungan yang rawan politik uang. Tentu tak hanya kaitannya dengan kampanye, kerja KPU sampai ke TPS-TPS pun perlu mendapat perhatian untuk bahan liputan. (40)

–Kusnadi Chandrajaya, pengajar jurnalistik di Stikom Semarang. (Sumber Suaramerdeka.com/9/2/19).

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.