Jadi Pengamat Media Itu Berat, Biar Aku Saja

kolom

Jadi Pengamat Media Itu Berat,
Biar Aku Saja


Yons Achmad
(Pegiat  #literasimedia. Direktur Kanet Indonesia)

Berapa jumlah pengamat media di Indonesia? Jawabnya bisa dihitung  dengan jari. Kenapa? Berat. Tidak enak. Alih-alih  bersikap kritis terhadap media, hasilnya malah dimusuhi oleh media itu sendiri. Akibatnya, dia tidak akan pernah diberi akses oleh media, minimal oleh media yang dikritiknya. Tapi, itulah risiko seorang pengamat media. Tanggung jawabnya adalah murni kepada publik, mencerdaskan publik. Tapi, kalau tanpa dukungan media apa bisa? Bisa sih walaupun kurang afdol.

Kawan saya, seorang redaktur media online pernah cerita. Dulu, ketika  dia bekerja pada salah satu koran terbesar di Jawa Timur, ada seorang tokoh, pengamat media yang ternama. Ulasan dan analisisnya banyak tersebar di berbagai media. Tapi, suatu ketika pimpinan koran di Jawa Timur itu gerah juga dengan kritikannya. Hasilnya apa? Dia tidak diberi akses lagi ke koran itu. Artinya, tidak diberi akses untuk menulis di sana, plus tentu saja tak mau beritakan sosok dan aktivitasnya.

Baru baru ini, ada seorang pengamat media lain. Pegiat salah satu lembaga pemantau media, khususnya televisi. Tapi, suatu ketika, dia mengeritik media online Tribunnews yang katanya malah membantu terorisme. Hal itu karena memberitakan terorisme sebagai komodifikasi. Artinya,  memberitakan isu terorisme semata-mata karena “klik” alias uang. Tuduhan itu membuat sang pemimpin redaksi harus berikan klarifikasi. Tak terima dituduh begitu, dan juga menyesalkan kritikan yang dinilainya kasar seperti menyebut media itu sebagai “Tuyulnya Kompas Gramedia”.

Terlepas dari kasus itu, saya kira, seorang pengamat media tetap dibutuhkan, untuk menjaga akal sehat media. Di level kampus, terutama jurusan Ilmu Komunikasi, seharusnya juga tak semua misalkan diarahkan untuk sekadar menjadi buruh media. Tetapi, perlu diarahkan untuk berperan aktif menjadi pemantau media. Membuat lembaga pemantau media independen. Memang, profesi pemantau media, pengamat media ini kurang populer. Tapi, inilah salah satu jalan sunyi yang tetap perlu dijalankan. Sebagai tanggung jawab intelektual.

Memang, bagaimanapun juga, seorang pengamat media tetap  perlu membawa diri. Semua orang dan saya kira semua lembaga pada dasarnya tidak suka dikritik. Itu sebabnya, dalam penyampaian kritik juga harus dengan bahasa yang “halus”. Tak semua bisa melakukannya demikian, tapi tetap bisa diusahakan. Saya sendiri juga belajar akan hal ini, bagaimana menyuarakan terus perihal #literasimedia dengan bahasa-bahasa yang tak membuat marah banyak pihak, terutama pemilik media. Sekali lagi susah memang, tapi perlu diusahakan.

Pemilik media sendiri, saya kira juga tak perlu kebakaran jenggot dan menaruh dendam pribadi kepada para pengamat media. Saya kira kehadiran mereka justru menjadi penyeimbang. Agar media tetap berada pada “rel” nya. Berada di jalan yang benar, setidaknya benar dalam anggapan publik.

Bagaimanapun juga, pengamat media, peneliti media, kritikus media, apapun namanya, perlu terus dirawat dan di apresiasi. Agar kehidupan bermedia kita menjadi  lebih bermartabat dan berwibawa.  Itu saja. []