Ini Dia Gaya Komunikasi Ahok dalam Sudut Pandang Etika Komunikasi

https://www.youtube.com/watch?v=_02Z6X8nIiY

Salah satu fungsi komunikasi adalah membangun kesepahaman bersama (Mutual Understanding). Beberapa hari terakhir ini pemberitaan santer menyajikan beragam “drama politik” antara Ahok (Gubernur DKI) dan DPRD. Terakhir, muncul pemberitaan yang begitu heboh, seperti muncul dalam rekaman video mediasi Ahok VS DPRD itu, yang konon katanya ada anggota DPRD yang menyebut Ahok sebagai “China Anjing”. Lengkap dengan tuduhan yang mengatakan itu anggota DPRD dari PKS. Sayangnya sampai saat ini siapa yang bilang seperti itu belum ketahuan, dan tuduhan pada anggota dewan PKS itu ternyata fitnah belaka.

Terdorong rasa ingin tahu dengan video itu, saya mencoba untuk membacanya. Kali ini bukan soal politik, soal korupsi “Dana Siluman” yang entah siapa sebenarnya yang menginput dana tersebut. Tapi, saya tertarik melakukan pengkajian dan analisis terkait bagaimana etika komunikasi Ahok dalam video media tersebut. Saya akan coba membacanya dari video berdurasi 06.54 menit yang bisa Anda lihat juga di Youtube.

Pada kesempatan saya akan meminjam konsep etika (komunikasi) dari John C. Merill (1975) dengan berbagai aliran yang ada:

1. Aliran Deontologis

Deon berasal dari bahasa Yunani yaitu “yang harus atau wajib” melakukan penilaian atas tindakan dengan melihat tindakan itu sendiri, artinya suatu tindakan secara hakiki mengandung nilai sendiri apakah baik atau buruk. Kriteria etis ditetapkan langsung pada jenis tindakan itu sendiri ada tindakan atau perilaku yang langsung dikategorikan baik, tetapi juga ada perilaku yang langsung dinilai buruk. Adapun alasannya perbuatan itu tetap dinilai sebagai perbuatan yang tidak etis dengan demikian ukuran dari tindakan ada didalam tindakan itu sendiri.

Analisis: Saya melihat sikap santun Ahok terhadap “Orang kecil”, yang terlihat saat seseorang menyuguhkan minuman kemasan kepadanya. Ahok terlihat tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Tentu saja, tindakan demikian perlu dipuji. Tapi, ketika berbicara dengan anggota dewan, gaya bicaranya yang membentak-bentak sambil menunjuk-nunjuk anggota dewan, tentu bukan contoh yang baik. Hasilnya beberapa anggota dewan terpancing emosinya. Di lain sisi, justru dalam video tersebut saya melihat kalau tidak salah Taufik (Ketua Gerindra DKI) dan Haji Lulung (PPP) terlihat berbicara dengan cukup tenang, sementara Ahok malah menyela dengan suara yang cukup keras plus juga dengan gaya yang sama, menunjuk-nunjuk anggota dewan. Jelas, dalam kacamata aliran Deontologis itu, Ahok menampakkan sikap tidak etis.

2. Aliran Teologis

Aliran ini melihat nilai etis bukan pada tindakan itu sendiri, tetapi dilihat dari tujuan atas tindakan itu. Jika tujuannya baik, dalam arti sesuai dengan norma moral, maka tindakan itu digolongkan sebagai tindakan etis.

Analisis: Saya tidak tahu persis tujuan atas tindakan itu. Kalau motifnya memang untuk membongkar misalnya skandal korupsi tentu saja semua perlu kita dukung. Tapi kalau hanya sekedar “Gertakan Kosong” tentu saja semua ini hanya percuma saja. Dalam kasus ini ukuran moralitas yang dijadikan bahan pertimbangan adalah soal korupsi. Yang tentu saja masing-masing baik Ahok maupun anggota DPRD masih kukuh pada klaim kebenaranya. Kelak akan terbukti siapa yang korup.

3. Aliran Etika Egoisme

Aliran ini menetapkan norma moral pada akibat yang diperoleh oleh pelakunya sendiri. Artinya, tindakan diketegorikan etis atau baik, apabila menghasilkan yang terbaik bagi diri sendiri.

Analisis: Barangkali sikap Ahok yang keras ini akan mendatangkan simpati publik. Tapi, bisa pula menjadi boomerang, dalam arti Ahok tak lagi punya kawan. Layaknya ekskutif dan legislatif, keduanya harus menjadi partner, bagaimana mungkin bisa jalan sendiri-sendiri? Jelas, sikap Ahok yang demikian itu saya kira hanya akan menyusahkan dirinya sendiri.

4. Aliran Etika Utilitarisme

Aliran yang memandang suatu tindakan itu baik jika akibatnya baik bagi orang banyak. Dengan demikian, tindakan itu tidak diukur dari kepentingan subyektif individu, melainkan secara obyektif pada masyarakat umum. Semakin universal akibat baik dari tindakan itu, maka dipandang semakin etis.

Analisis: Jelas sikap Ahok yang demikian itu sangat merugikan kepentingan umum. APBD tidak disyahkan, artinya “pembangunan” tidak jalan. Itu sebabnya, perlu terus diadakan mediasi agar kedua belah pihak “mencair”. Apa boleh buat, inilah proses komunikasi politik yang memaksa siapapun yang bertikai harus berdamai. Demi kepentingan umum yang lebih luas.

Kesimpulan: Dari analisis sederhana di atas, saya menyimpulkan bahwa memang sudah sebaiknya Ahok memperbaiki gaya komunikasinya. Bagaimanapun juga, etika menjadi penting bagi jalannya pemerintahan. Hal ini sekaligus membantah ungkapan yang mengatakan “Ahok Memang Kasar Tapi Tak Korupsi”. Benarkah demikian? Belum tentu. Kita masih belum tahu siapa sebenarnya yang korup. Ahok atau anggota DPRD. Dan, kalau ternyata gaya komunikasi Ahok masih begitu-begitu saja, yakin saja, itu hanya menyusahkan dirinya sendiri dan merugikan kepentingan umum. Demikian (Yons Achmad/Pemerhati Media/ CEO Kanet Indonesia).

Gambar: Ilustrasi

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.