Gerilya Media Golkar Kubu Agung Laksono Apakah Bisa Menang?

Aburizal Bakrie VS Agung Laksono

Pertarungan Golkar Kubu Aburizal Bakrie VS Agung Laksono menarik untuk dicermati. Saya tidak akan menyoroti aspek politik maupun aspek hukumnya. Tapi saya tertarik bagaimana mereka menggunakan media untuk membangun opini publik. Kubu Aburizal Bakrie tentu menggunakan media kepunyaannya sendiri semisal TV One atau Vivanews. Dan aspek positif kubu ini tentu saja selalu dimunculkan.

Lalu bagaimana dengan Golkar Kubu Agung Laksono? Beberapa minggu ini saya mencermati bagaimana kubu Agung laksono begitu semangat melakukan gerilya media. Dengan membangun opini sedemikian rupa yang berusaha meyakinkan publik bahwa kubu Golkar versinyalah yang sah dan berhak mengikuti pilkada. Tapi, apakah semua ini berhasil? Belum tentu.

Saya mengamati, yang paling getol mendukung Golkar versi Agung Laksono ini, di ranah maya ada beberapa media. Diantaranya Detik, Tempo lalu Kompas. Media-media ini selalu memberi tempat bagi Golkar kubu Agung Laksono untuk bersuara. Baik melalui wawancara pribadi maupun lewat konferensi-konferensi pers yang sering dilakukannya.

Sebagai pemerhati media, saya pribadi mengacungi jempol pada kubu Agung Laksono yang secara aktif melakukan pendekatan ke berbagai media. Berupaya meyakinkan publik berkali-kali diberbagai kesempatan. Tapi sayangnya, masyarakat tentu bukan khalayak pasif yang memerima begitu saja argumentasi dan penjelasan kubu Agung Laksono. Tak hanya Agung Laksono saja yang sering bicara ke media, tapi orang-orang yang menjadi “pengikut setia” nya juga kerap “ngoceh” di media. Ibarat pepatah, ikan yang terlalu banyak membuka mulut akan mudah kena pancingan.

Sementara, di kubu Aburizal Bakrie agak berbeda. Sepertinya persoalan kisruh partai golkar itu diserahkan kepada ahlinya, yaitu konsultan hukumnya (pengacaranya). Tak lain tak bukan tokoh ternama yang integritasnya begitu terjaga, Prof Yusril Ihza Mahendra. Tokoh ini tak banyak komentar di media, tapi sekali komentar cukup mengena. Misalnya saat kemenangan Kubu Aburizal Bakrie di pengadilan yang membatalkan SK Menkumham kubu Agung Laksono. Ketika dimintai komentarnya oleh media, sang tokoh hanya berkata singkat “ Ini kemenangan hukum melawan kekuasaan”.

Di kubu Agung Laksono saya mencermatinya, mereka, Agung Laksono dan para pengikut-pengikutnya kerap melontarkan komentar-komentar juga di media. Tapi, komentar-komentarnya itu sangat politis dan hanya sesuai dengan keinginannya saja, yaitu menjadikan Agung Laksono sebagai ketua yang sah, apapun caranya. Jadi, dalam hal ini, di media, yang terbangun adalah argumentasi hukum di kubu Abirizal Bakrie dan argumentasi politik di kubu Agung Laksono.

Lantas, apakah gerilnya media kubu Agung Lalksono yang cenderung politis ini bisa mengantarkannya berhasil menuju Ketua Umum Golkar yang sah? Entahlah, kita tunggu saja. Tapi, kalau boleh memprediksi, rasa-rasanya argumentasi politis yang dibangun dimedia itu akan sulit memenangkan “pertarungan” yang sesungguhnya. (Yons Achmad/Pemerhati media/ CEO Kanet Indonesia).

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.