Berwacanalah, Demi Hidup Lebih Baik!

kolom

Berwacanalah, Demi Hidup Lebih Baik!
:Yons Achmad*

“Ah Kamu bisanya hanya berwacana”. Kalimat ini sering terlontar dan ditujukan kepada saya. Tentu saja, kadang dulu saya agak sedikit kesal dengan pernyataan demikian. Kata “hanya” jelas terkesan meremehkan. Seolah sekadar bisa omong kosong, tidak pernah bisa berbuat apa-apa. Tapi, alih-alih kesal terus menerus, “ejekan” itu diam-diam saya renungi. Apakah benar berwacana itu sesuatu yang tidak berguna sama sekali?

Sampai akhirnya, saya sadar dan percaya diri, bahwa berwacana itu sendiri adalah proses aksi. Orang yang berwacana, dia tentu saja telah melakukan proses berpikir. Yang didahului diantaranya misalnya melalui membaca, riset atau berdiskusi dengan orang lain. Singkat kata, wacana adalah sebuah aksi.

Masalahnya kemudian adalah, kalau dituntut selalu konkrit, apakah kita bisa meraih hidup yang lebih baik dengan wacana? Jawabannya adalah bisa. Jawaban demikian, tentu saja juga telah melalui proses tersendiri. Bisa panjang, bisa pendek. Saya sendiri mendapatkan jawaban yang memadai, ketika bergaul secara non formal dengan Profesor Ibnu Hamad, salah satu Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), begitu juga dengan interaksi saya membaca buku-bukunya, diantaranya “Wacana” dan “Komunikasi Sebagai Wacana”.

Dalam buku itu, setidaknya saya belajar. Dikatakan bahwa dirasakan atau tidak, sebagian besar-kalau tidak dikatakan seluruhnya-ketika berkomunikasi, sesungguhnya kita sedang membangun wacana (discourse). Yaitu, tindakan kita menggunakan bahasa sesuai kaidah tatabahasa tetapi kita masukkan ke dalamnya unsur-unsur non bahasa. Di sini, kita tidak lagi sekadar berkata atau menulis ketika hendak menyampaikan pesan. Kita bukan sebatas mengikuti tata bahasa ketika menggunakannya untuk berkomunikasi. Kita menambahkan unsur-unsur non bahasa entah itu kepentingan pribadi, ekonomi, politik ataupun ideologi ke dalam bahasa. Pada akhirnya, disadari atau tidak, sebenarnya hidup kita sangat ditentukan oleh cara kita membangun wacana.

Mengutip Norman Fairlough (2006) dalam “Discourse and Sosial Change”. Jika dunia ingin diubah menuju situasi yang lebih adil maka perbaikilah discourse-nya dan jauhilah praktik-praktik discourteous yang hanya merusak moral masyarakat. Mengapa demikian, karena wacana sebagai hasil proses konstruksi realitas itu bukan hanya menghasilkan makna, citra dan mengandung kepentingan, melainkan juga menggerakkan.

Dari pengalaman interaksi demikian, lantas saya percaya bahwa wacana itu bisa menggerakkan sekaligus bisa menjadi salah satu solusi untuk hidup yang lebih baik. Wacana sekaligus sebagai tawaran solusi yang sifatnya immateri. Artinya, setiap orang bisa ikut ambil bagian asalkan punya kemauaan dan kesadaran. Berbeda dengan dunia yang digerakkan dengan uang (materi). Yang tidak semua orang bisa ikut ambil bagian.

Contoh kecilnya, peristiwa Anies Baswedan (Gubernur Jakarta) yang dilarang Paspampres ke podium dalam perhelatan sepakbola piala presiden. Wacana awal yang berkembang. Jokowi dan orang-orang terdekatnya dinilai amatiran. Sengaja tak memberi panggung kepada Anies Baswedan. Peristiwanya berkembang setelah video singkat diunggah dan menjadi viral. Atas, peristiwa itu, istana pun panik dan sibuk melakukan klarifikasi. Tapi, yang terjadi justru kekonyolan. Argumen “hukum” dan protokoler dilontarkan.

Tapi, fakta tak pernah terbantahkan. Dulu, di event yang sama. Gubernur DKI terpidana penista agama alias Ahok tampak dampingi Jokowi. Jadi, arumen itu menjadi sia-sia belaka. Netizen ngamuk. Sampai ada yang memprediksi, karena tak beri panggung ke Anies. Di 2019 nanti, panggung Jokowi bakal “nyungsep”. Singkat kata, kelicikan dan ketidakfairan dipertontonkan dengan nyata oleh rezim pencitraan yang kelewat “overdosis” ini. Sampai di sini, hawa wacananya mungkin sangat panas.

Tapi, wacana yang berkembang berikutnya menjadi adem. Sumpah serapah kepada Jokowi dan Maruara Sirair (kader PDIP) yang jadi “ Panitia Pengarah” event itu mulai mereda. Yang berkembang berikutnya justru perayaan Anies Baswedan di panggung netizen. Banyak yang memuji sikap kesatria Anies yang tak memaksa ikut Jokowi ke podium setelah dilarang Paspampres. Walau kalau kita lihat video viral yang beredar, dia tampak begitu kesal. Tapi, akal sehat menyelamatkanya.

Di media yang saya baca, salah satunya Vivanews.co.id, ketika diminta komentarnya terkait insiden itu, Anies hanya bicara singkat. Tak mencela Jokowi, tapi hanya berkomentar “Yang penting Persija Menang”. Singkat cerita, panggung (politik) sebenarnya milik Anies dalam kasus itu.

Itu hanya contoh kasus kecil saja. Bagaimana wacana bisa menjadi sesuatu yang produktif ketika kita bisa mengggeser sedikit saja cara pandang kita.

Dalam perspektif kontributif, kita sebenarnya juga bisa berperan dalam mewujudkan dunia yang lebih baik. Dengan apa? Lewat wacana-wacana yang menggerakkan melalui fakta-fakta kebaikan dan kebajikan. Peran kita mewarnai wacana media maupun sosial media yang mengarahkan seseorang untuk berpikir, bertindak dan berkarya lebih produktif. Mewarnai wacana dengan isu-isu yang menggerakkan menuju kondisi yang lebih baik.

Pada akhirnya, lewat wacana demikian, kita juga bisa sedikit turut andil dalam perubahan sosial. Jadi, terus berwacanalah. Dengan narasi-narasi yang inspiratif , menggerakkan dan progresif (berkemajuan). []

Depok, 19 Februari 2018

*Kolumnis. Pengamat Media. Founder Kanet Indonesia