Balas Dengan Buku

Kolom
Melawan Lewat Buku

Media sosial (medsos) bisa menjebak kita untuk sibuk atas pikiran orang lain. Sementara, kita malah sering abai dengan pikiran kita sendiri.  Hasilnya apa? Energi dan potensi kita habis dan tak tereksplorasi dengan baik. Padahal, kalau kita mau melongok sedikit saja ke dalam diri kita, maka bisa jadi terhampar luas beragam pikiran brilian yang kelak bisa mewujud dalam sebuah karya. Salah satunya adalah buku. Atau setidaknya, artikel (kolom) yang kelak bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku.

Ini resep kecil saya untuk menghadapi era medsos. Agar kehadiran medsos menjadikan kita lebih produktif, bukan sebaliknya, menyeret kita dalam kubangan luapan informasi yang sama sekali tak menjadikan hidup kita lebih berkualitas. Bahkan sebaliknya, menjadikan kita semacam sasaran tembak beragam opini, pandangan, sampai  menjadi korban makhluk bernama kapitalisme yang mewujud dalam film, fesyen serta produk-produk ciptaan lainnya.

Resep kecil saya ini tentu khusus ditujukan bagi kalangan terdidik. Yang menjadikan pikiran sumber energi, serta pengetahuan menjadi bagian yang didudukkan dalam panggung mulia. Bukan, tentu saja diperuntukkan bagi kalangan yang melulu menghamba kepada uang. Atau siapapun yang rela bergelayut manja dipangkuan penguasa dengan menggadaikan prinsip, ideologi serta idealisme yang selama ini kukuh dipegang erat.

Kita sama-sama tahu. Negeri ini sedang tidak beres. Ya, dalam segala urusan. Menjadi renungan kita, apa yang semestinya bisa kita lakukan agar sedikit bisa berkontribusi untuk bangsa? Salah satunya adalah dengan pikiran. Ya, pikiran yang bersih, terang, mencerahkan, demi nasib bangsa yang lebih baik lagi.  Media sosial mungkin bisa sebagai media, langkah awal kita menelurkan pikiran.

Tapi, elaborasi mendalam dalam bentuk tulisan (kolom/artikel) yang utuh, bahkan dalam sebuah buku adalah langkah intelektual agar pandangan dan gagasan pikiran progresif (berkemajuan) kita bisa lebih dipahami oleh kalangan awam sekalipun. Inilah tanggungjawab intelektual kita. Merasa ada pikiran yang keliru, bersuaralah di media sosial (medsos), dilanjut dengan tulis artikel/kolom yang bisa menjelaskan duduk perkaranya.

Lebih baik lagi, balas beragam pandangan yang “menyesatkan” dengan pencerahan lewat sebuah buku. Jadi, kalau ada yang bertanya apa kontribusi Anda untuk bangsa? Jalan sunyi inilah salah satunya. Perjuangan peradaban bangsa lewat kata.[]

(Yons Achmad. Penulis Kreatif. Pengamat Medsos, tinggal di Depok).