Bahaya Slogan “NKRI Harga Mati”

Kolom

Patriotisme, dalam arti cinta tanah air itu baik. Tapi, politik patriotisme, dalam arti menebar slogan plus serampangan memberikan stigma (cap) kepada kelompok tertentu sebagai anti NKRI itu amat berbahaya? Kenapa, dengan alasan patriotisme, seseorang atau kelompok tertentu bisa seenaknya memberangus aktivitas, kegiatan bahkan seringkali merasa boleh melakukan kekerasan terhadap kelompok yang dinilai anti NKRI itu.

Spirit ini saya dapatkan ketika mendengar komentar Eep Saefullah Fatah dalam acara ILC yang disiarkan TV One. Dalam kesempatan itu, dia mengomentari soal politik identitas yang salah kaprah. Dia menyesalkan bagaimana misalnya seorang muslim berkeyakinan terhadap agamanya kemudian mengambil sikap atas dasar agama dianggap bahaya. Dipersoalkan kebenarannya. Dituntut untuk melepaskan diri dari argumen-agumen agama dalam politik.

Dalam kesempatan itu, diutarakan pula, justru yang sangat berbahaya adalah politik partiotisme. Saya kira ini benar adanya, kita mesti membaca ulang beragam slogan-slogan nasionalisme serta patriotisme yang saat ini marak digembar-gemborkan. Yang paling sering digunakan adalah slogan “NKRI Harga Mati”.

Saya kira, slogan ini kurang tepat. Pilihan kata “harga” itu problematis. Lebih tepat misalnya dengan istillah “NKRI Jangan Mati”. Kenapa? Slogan “NKRI Harga Mati” berdimensi statis, bernada ancaman, menakut-nakuti. Sementara, “NKRI Jangan Mati” punya daya hidup, dinamis dan berpotensi menyerap beragam kreativitas demi pengembangan dan pemajuan bangsa. Ini baru kita bahas kulit luarnya.

Sementara, dalam ranah yang lebih substantif, kita bisa bidik dimensi yang lebih mendalam. Dalam kajian arus informasi, fenomena di atas boleh dikata sebagai bentuk patriotisme semu (pseudo patriotism). Atau dalam bahasa Jean Baudrilard seperti dikutip Yasraf Amir Piliang dalam buku “Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial” dinamakan simulacra, model realitas yang tidak berkaitan sama sekali dengan realitas yang sesungguhnya. Artinya apa, slogan “NKRI Harga Mati” tak lebih sebagai omong kosong belaka.

Mengikuti tafsir demikian, dapat dikatakan bahwa dalam proses simulasi, melahirkan sebuah proses penciptaan realitas yang melampaui, artinya pula, sebenarnya realitas demikian tidak ada alias realitas palsu. Yang namanya realitas palsu, maka kemudian yang terjadi adalah pendistorsian, pelencengan atau pemalsuan realitas. Hasilnya, lahirlah individu atau komunitas yang bertindak pura-pura (pseudo) atau seolah-olah (as if).

Misalnya dimunculkan isu seolah-olah ada kelompok, ormas yang ingin mengganti Pancasila dan menggoyang NKRI. Seolah-olah pula ada kelompok yang paling begitu cinta NKRI. Padahal reputasi mutakhirnya hanya spesialis membubarkan pengajian. Seolah ormas dan kelompok yang dicap anti NKRI itu punya kekuatan begitu luar biasa sehingga dengan serta merta bisa mengganti dasar negara, mengganti Pancasila. Politik “Seolah-olah” ini yang perlu dibaca ulang. Kenapa? Sebab, yang paling punya potensi besar mengganti Pancasila, menggoyang NKRI dengan menjualnya kepada asing itu siapa? Tepat, rezim yang saat ini berkuasa. Jadi, kita mesti sudahi akal-akalan permainan isu yang tidak bermutu ini.

(Yons Achmad. Kolumnis, tinggal di Depok).