Bahaya Kebanyakan Berita

kolom

Bahaya Kebanyakan Berita
Oleh: Yons Achmad
(Pengamat media, tinggal di Depok)

 Kebanyakan konsumsi berita itu tidak sehat. Kali ini, saya setuju dengan petuah John Sommerville lewat karya lawasnya “How the News Makes Us Dumb” (1999) yang saya kutip dari Idi Subandy Ibrahim dalam salah satu bukunya.  Menurut Sommerville, generasi yang dibesarkan dengan berita tidak berarti menjadi generasi yang sehat. Sebab, jika ada sesuatu yang mereka dapatkan dari berita, mereka dapat menjadi serba tahu tanpa harus bekerja keras.

Sebelum mengeksplorasi lebih jauh, kita coba bedah sepintas kasus berita Sandiaga Uno yang langkahi makam salah satu sesepuh NU ketika berziarah. Bagaimana Anda memandang berita itu? Bagi sebagian orang biasa saja, kalaupun salah, khilaf, ya dimaafkan saja, selesai.

Toh,  sangat tidak mungkin seorang tokoh yang jadi calon wakil presiden pada pemilu 2019 nanti dengan sengaja melakukan tindakan yang dipandang kurang elok itu. Bahkan pihak keluarga sendiri juga sudah memaafkan.

Tapi rupanya, media tergoda untuk terus “menggoreng” isunya. Kejadian itu sebenarnya sudah berlangsung lama, tapi budayawan Candramalik, yang sering mengaku Sufi, tapi sebenarnya  juga pengurus ormas NU pendukung Jokowi mengunggahnya di akun instagramnya.

Akhirnya, berita dan arus informasi dibuat heboh. Tujuannya apa? Tentu saja membangun kesan Sandiaga tak mengerti adab tradisi NU. Singkat kata, tak layak dipilih pada pemilu 2019 nanti. Itulah tujuan akhirnya.

Kalau kita melulu hanya membaca berita, itulah  yang didapatkan. Remah-remah informasi yang hanya menjadikan kita sekadar tahu dan emosionalnya “terbakar”. Tapi, tidak bagi mereka yang mengimbanginya dengan informasi yang lebih mendalam. Misalnya, diimbangi dengan membaca artikel-artikel, opini yang berbobot atau buku-buku terkait dengan pemberitaan tersebut.

Contohnya, misalnya bagaimana tata cara berziarah kubur yang benar. Apakah menabur bunga  di makam itu diperbolehkan? Bagaimana hukumnya melangkahi kuburan? Dari  usaha demikian kita akan mendapatkan pencerahan.  Bagi saya sendiri, percaya ziarah kubur itu diperbolehkan. Hanya saja, bukan untuk meminta berkah atau apa yang disebut dengan “ngalap berkah”.

Karena bagi saya, dengan berbagai referensi buku yang saja baca, itu haram karena termasuk syirik. Yang, benar justru dalam berziarah, kita mendoakan  kebaikan bagi mereka yang sudah meninggal itu. Sambil kita terus mengingat kematian agar dalam hidup tak lalai untuk senantiasa berbuat kebaikan.

Itulah salah satu contoh melulu baca berita itu kurang sehat. Apalagi, berita-berita politik yang saat ini terus diproduksi oleh media-media kita.  Dulu, seorang kritikus media, Jean Baudrilard pernah berkata “Kita berada dalam semesta yang begitu melimpah informasi, tapi begitu miskin makna”.

Nah, memang sudah saatnya bagi kita sekarang, untuk tak sekadar hanya bisa memamah berita, apalagi berita yang dangkal, tendensius plus dengan judul-judul yang provokatif.  Tapi, mengimbanginya dengan informasi berupa wacana-wacana mencerahkan. Tujuannya satu, agar tak hanya bisa tahu informasi, tapi bisa mendapatkan makna dari setiap peristiwa. []