Awas Jebakan Isu Bangkitnya PKI

kolom

Awas Jebakan Isu Bangkitnya PKI
Oleh: Yons Achmad*

Apakah Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit lagi? Ketika Anda menjawab iya. Disertai dengan foto-foto yang mungkin tidak benar (hoax), hati-hati , polisi akan sigap menangkap. Jadi, menyoal isu bangkitnya PKI ini, selalu awas dan waspadalah. Orang boleh berpendapat bahwa tak mungkin PKI akan bangkit lagi. Tapi, kalau melihat perkembangan politik terbaru di tanah air.Tindakan menghalalkan segala cara khas PKI untuk meraih keuntungan politik benar-benar nyata adanya. Kita tak boleh pura-pura menutup mata. “Pembantaian” dan teror terhadap ulama adalah salah satunya. Apakah ini kerjaan rezim berkuasa? Entahlah. Hanya Tuhan dan pelakunya yang tahu.

Memang. Sibuk dengan isu yang simpang siur dan sebatas rumor menghabiskan energi. Alih-alih sibuk dengan isu tertentu yang tak jelas, tentu saja langkah yang lebih produktif harus ditempuh. Tak lain memperkuat basis masing-masing. Banyak ragam cara produktif dilakukan untuk mengedukasi publik. Terutama terkait ketidakberesan kepemimpinan nasional. Yang semakin hari semakin tidak bisa diharapkan lagi untuk kembali memimpin negeri ini. Kalau terus menerus rezim ini tak memiliki itikat baik. Apa boleh buat. Rezim ini harus disudahi. Tahun 2019 adalah momentumnya. Sebuah cara konstitusional, bukan dengan kekerasan.

Sadar atau tidak, kita saat ini memang mengalami era yang dibayang-bayangi oleh wacana horor. Dalih “Ujaran Kebencian” menjadi delik memenjarakan orang. Mereka ditangkap, dipenjara. “Ujaran kebencian” dalihnya. Padahal dibaliknya, banyak orang yang ditangkap tersebab dikenal kritis terhadap penguasa. Lantas, bagaimana mereka yang pro penguasa dan rajin menyebarkan “Ujaran Kebencian”? Semua orang tahu nasibnya.

Terkait dengan wacana horrosophy ini, Yasraf Amir Piliang (2003) dalam “Hantu-hantu Politik dan Matinya Sosial” mengutip pemikiran Deleuze dan Guattari dalam “ A Thousand Plateaus: Capitalism And Schizophrenia” mengatakan bahwa pikiran-pikiran horor itu adalah pikiran dari orang-orang yang telah kehilangan akal sehat (reason), dari orang-orang yang tenggelam di dalam lembah kegilaan (delirium, schizophrenia), dari orang yang tidak mampu lagi mengendalikan hasrat berkuasanya dan lantas membela hasrat tersebut dengan pikiran-pikiran jahat, tindakan-tindakan gila dan aksi-aksi yang menyeramkan.

Apakah, “Power of Horror” ini sedang terjadi? Bisa jadi. Kita bisa lihat, kampus (akdemisi) yang seharusnya berada di garda depan dalam merawat akal sehat nyatanya banyak yang memilih jalan “Aman”, tak bersuara kritis. Tapi, musim kemarau harapan datang dengan hadirnya, misalnya sosok Zadit Taqwa, Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) yang dengan lantang dan kritis berani berikan “Kartu Kuning” kepada Jokowi. Sungguh, sebuah keberanian yang perlu diacungi jempol. Sebab, tak banyak yang berani bersikap demikian. Apa taruhannya? Bisa masuk bui Bung!

Itu sebabnya, yang harus kita kritisi. Bukan terlalu antusias untuk terjebak pada isu kembalinya PKI di negeri ini. Yang terpenting bagi kita, mengedukasi publik agar siapapun. Partai apapun yang mencoba menghalalkan cara seperti dilakukan PKI di masa lalu, harus dihentikan. Yang kita harapkan hanya politik yang lebih beradab. Bersaing secara sehat. Tak perlu ada teror dan kekerasan misalnya kepada ulama. Rakyat juga tak perlu dtakut-takuti ketika bersikap kritis kepada penguasa. Biarkan akal sehat publik tumbuh dan menjadi kontribusi merawat rumah besar NKRI.

Depok, 21 Februari 2018

*Kolumnis. Pengamat media. Founder Kanet Indonesia.