Arteria Dahlan Harus Dilawan

Arteria Dahlan Harus Dilawan
Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi Profetik)

“Arteria Dahlan tunjuk-tunjuk dan sebut Emil Salim sesat”. Ini judul salah satu berita media online. Sementara, netizen tak mau ketinggalan isu. Di Twitter dan Facebook ramai potongan video “aksi” anggota dewan dari PDI Perjuangan di tayangan Mata Najwa itu. Apa komentar paling menonjol? “Tidak tahu adab,” kata netizen. Saya tak mau ikut-ikutan dalam penghakiman spontan ini.

Saya pelan-pelan lihat tayangan yang lebih utuh. Debat antara Arteria Dahlan dan Emil Salim berangkat dari asumsi kebenaran masing-masing. Sama-sama mempertahankan pendapatnya. Sampai di sini tak masalah. Seberseberangan apapun pandangan, saya kira pasti ada titik temunya. Ini sebuah hal yang pasti kalau kita bicara dengan basis ilmu retorika. Artinya, setajam apapun perbedaan pandangan, pasti bisa didialogkan.

Tapi rupanya netizen tidak sedang bicarakan substansi, tapi caranya. Baiklah, saya juga coba tak masuk ke ranah itu. Tapi, sekadar ikut berkomentar perihal video viral yang menyoroti bagaimana anggota dewan itu berdebat. Dalam video yang viral itu terlihat masing-masing juga berada dalam amarah. Emil Salim sampai teriak “Dengarkan dulu”, sementara ditimpali interupsi terus menerus dari sang anggota dewan sampai Najwa Shihab (Host) bilang “Anggota dewan juga perlu beri contoh ke rakyat bagaimana cara mendengarkan.”

Baiklah. Saya kali ini akan fokus soroti soal amarah. Dalam ilmu retorita ada yang namanya “Pathos” yang merujuk kepada emosi dan kharakter komunikan. Aristotle seperti dikutip Zainul Maarif (2014) dalam Buku “Retorika: Metode Komunikasi Publik” menjelaskan bagaimana rasa amarah diakibatkan oleh penghinaan (slighting).

Menurut Aristotle, hal ini dilakukan minimal dalam tiga bentuk. Pertama menghina dengan merendahkan diri (contempt). Kedua, menghina dengan membuat dongkol (spite). Ketiga, menghina dengan mengolok-olok (insolence). Diri direndahkan dengan dianggap tidak penting. Diri dibuat dongkol dengan dihalangi untuk meraih keinginan. Dan diri diolok-olok oleh tindakan atau perkataan yang mempermalukan dan memposisikan diri di posisi bawah, sedangkan pihak yang mengolok-olok di posisi atas.

Dari penjelasan singkat di atas, saya berpikir dengan mengkontekskannya dalam kehidupan politik. Rupanya, sekarang kondisinya terbalik-balik ya. Biasanya dalam politik, yang begitu dinilai galak, sering marah, nyinyir adalah kubu opisisi atau mereka yang berseberangan di pemerintahan. Misalnya dulu kita contohkan Fahri Hamzah atau Fadli Zon. Kini, dunia politik terbalik-balik. Yang galak justru politisi-politisi pro pemerintah, plus buzzer-buzer “peliharaan”. Hal ini tentu memperihatinkan dan perlu dilawan.

Tapi, terlepas dari itu, apakah amarah itu sama sekali tidak diperlukan? Jelas, tetap diperlukan. Apalagi pada momen-momen tertentu. Apa itu? Ketika melawan kezaliman dan kebijakan-kebijakan yang menindas rakyat. Jadi, apa pelajaran penting dari amarah Arteria dahlan ini? Saya kira justru yang diperlukan adalah membalik logika.

Amarah bukan saatnya ditujukan kepada mereka yang kritis kepada kekuasaan. Justru, amarah perlu kita salurkan untuk melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan penguasa. Termasuk di dalammnya anggota-anggota dewan yang hanya bisa membebek apa kata penguasa, tidak kritis dan tidak peka terhadap kondisi psikologis masyarakat yang kini sedang dilanda krisis dalam beragam hal. Itu seharusnya yang dilakukan, bukan sebaliknya.

Kategori Kolom

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.