Apresiasi untuk Kompas Edisi Stop Press

Kolom

kompas  stop press

Saya suka mengamati perkembangan media. Seperti pada Januari 2015 ini, ada peristiwa menarik di dunia media cetak tanah air. Salah satunya harian Kompas yang menghentikan proses cetaknya. Mengganti dengan plat baru, desain baru pada halaman pertama Koran cetak itu. Mengikuti perkembangan terbaru kasus “Banteng” (PDIP) dan “Buaya” (Polisi) melawan “Cicak” (KPK)

Saya pertamakali mendapatkan informasi itu dari akun Twitter Pemimpin Redaksi Kompas, Budiman Tanuredjo. Dalam akun twiternya, dia menginformasikan bahwa Kompas hari Sabtu, 24 Januari 2015 akan terbit dua edisi, pertama dengan cover bergambar para pendukung KPK yang sedang beraksi di depan gedung KPK dengan judl “Pelemahan KPK Sistematis”, kedua bercover foto Bambang Widjoyanto yang baru saja keluar dari tahanan polisi dengan judul headline “ Penahanan Bambang Ditangguhkan”.

Apa yang menarik dan perlu diapresiasi dari Kompas ini? Kita bisa membayangkan, fakta bahwa Bambang baru dikeluarkan dari tahanan Bareskrim Polri sekitar pukul 01. 30. Bayangkan pula tim Kompas harus mengganti desain dan juga kembali memasang plat cetak, kemudian menc etak eksemplar Koran yang entah berapa jumlahnya. Tentu hal ini sebuah militansi jurnalisme yang perlu diacungi jempol. Menurut Pemimpin Redaksi Kompas itu (masih dalam akun Twiternya), sangat jarang Kompas melakukan hal ini. Stop Press terakhir dilakukan saat Paus Johanes ke 2 meninggal. Hasil akhirnya, pagi-pagi tanggal 24 Januari, saya dan pembaca lainnya di Jakarta mendapatkan Kompas dengan informasi terbaru “Penahanan Bambang Ditangguhkan”.

Lantas, sebenarnya apa “pesan moral” dari Kompas ini? Saya kira, tanpa susah-susah membuat dua edisi, dengan edisi “Stop Press” itu Kompas toh tetap dibaca, banyak pelanggannya. Tapi, bagi jajaran redaksi, barangkali menyajikan informasi yang update, teranyar menjadi harga mati. Yang mungkin harus dibayar dengan kelelahan crew media itu. Mulai dari redaksi, tim desain apalagi tim cetak. Bayangkan, informasi terbaru baru datang pukul 01.30 dan Koran Kompas harus sudah menyapa pembaca bahkan saat subuh tiba. Militan betul mereka.

Saya kira, yang demikian juga menjadi perhatian para pekerja media di tanah air. Dengan menampilkan peristiwa terbaru itu menjadikan Kompas menjadi berbeda dengan Koran-koran cetak lainnya. DI saat Koran-koran lain masih menyoal penangkapan pimpinan KPK Bambang Widjoyanto, Kompas sudah menyodorkan info terbaru soal “Penahanan Bambang Ditangguhkan”. Itu nilai lebih Kompas.

Begitulah pelajaran bermedia yang bisa kita ambil. Apalagi, sekarang persaingan media begitu ketat. Tak hanya media cetak. Persaingan media online juga saling berlomba memberikan sajian terbaik mereka. Jadi, dalam kasus “Stop Press” ini kita bisa belajar banyak dari Kompas sehingga kelak bisa menginspirasi industri media untuk bisa memberikan sesuatu yang baru, berbeda, unik dibanding dengan media lainnya. (Yons Achmad/CEO Kanet Indonesia ( Konsultan, Riset & Advokasi Media).