Anwar Holid: Editor yang Sering Sedih Lihat Buku Jelek Tapi Laku

Tokoh

Anwar Holid yang akrab dipanggil Wartax, seorang editor lulusan Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam profil Facebooknya, dia mengaku sering jengkel kalau lihat salah tulis dibuku atau tulisan yang dibacanya, meski dia sendiri juga mengaku tetap kesulitan menghindari kesalahan serupa. Wajar, mungkin karena dia dilatih untuk jadi editor dan penulis.

Riwayat pekerjaannya, sekarang jadi penyunting, penulis, dan publisis freelance. Ada kala juga diundang sebagai fasilitator pelatihan menulis atau bicara tentang dunia perbukuan–dunia tempat dia mendapat nafkah selama ini. Dulu dia pernah kerja di Mizan, PATTIRO, dan Jalasutra. Kira-kira enam tahun jadi kontributor Selisik di Republika, sebentar di Digibookgallery.com, dan Forum Buku Goethe-Institut Jakarta.

Disela-sela profesinya sebagai editor, dia juga masih sempat menulis buku. Diantaranya ”Seeking Truth Finding Islam” Buku biografi ”Barack Hussein Obama”, juga buku panduan menulis, mengedit dan memolesnya berjudul ”Keep Your Hand Moving”. Melihat kiprahnya, kita tentu merasa perlu untuk lebih mengenalkannya pada khalayak pembaca, penulis dan penerbit di tanah air. Tanpa rewel dan pikir panjang, tokoh kita satu ini langsung menyanggupi wawancara dan menjawab cepat wawancara lewat email yang diajukan. Berikut wawancaranya yang kami haturkan khusus untuk Anda:

Ada yang bilang menulis itu pekerjaan manusia, kalau editor itu pekerjaan dewa, komentar Anda?

Editor dan penulis adalah partner demi menghasilkan karya yang hebat dan baik untuk semua. Peran editor yang paling penting ialah menjembatani kebutuhan penulis-penerbit-pembaca.

Hal-hal menjengkelkan apa selama menjalani profesi sebagai editor?

Sudah berusaha memberi saran sebaik mungkin kepada penulis dan penulis pun mengiyakan, tapi ternyata hasilnya tetap jelek, entah penjualan bukunya seret, tidak meledak, atau tak terasa ada manfaatnya bagi pembaca dan penulis itu sendiri. Lebih sedih lagi kalau buku lain yang lebih sukses ternyata banyak typo dan editingnya buruk. Rasanya kerja sebagai editor jadi sia-sia.

Tentu ada cerita sukanya dong, boleh dibagikan ke teman-teman lain?

Jawaban ini klise: saran dan perannya bermanfaat, lantas (hasil) editannya dinilai bagus oleh siapapun yang baca.

Kira-kira buku bernafaskan Islam semacam apa yang perlu ditulis untuk pembaca ke depan, alasannya?

Islam yang toleran, terbuka, dan terdengar masuk akal bagi orang non-Muslim. Kayaknya sampai sekarang Islam masih sering disalahpahami, dan yang mengejutkan, pengetahuan maupun pengertian kaum Muslim terhadap saudara-saudara serumpun agamanya pun masih rendah. Makanya kecurigaan dan perselisihan terus terjadi. Ini memprihatinkan. Bagi saya, yang paling memprihatinkan ialah setiap kali mendapati ada orang Islam yang intoleran terhadap umat lain.

Menarik sekali, tapi kalau boleh tanya, apa sih yang Anda cari dalam hidup ini, maaf kalau pertanyaan saya agak lancang?

Dari dulu saya tertarik dengan ide tentang sederhana. Mungkin itu yang paling berusaha konsisten saya lakoni.

Ok, terakhir, apa saran Anda untuk para editor atau calon editor di tanah air?

Punya pendirian dan mengikuti perkembangan bahasa. Sejujurnya, itu nasihat untuk diri sendiri. Saya misalnya, lebih memilih mengeja ‘karir’ dan bukan ‘karier’ sebagaimana kecenderungan hampir semua pihak, meski keyakinan dan pendirian itu masih ditolak pihak yang pernah mengajak saya kerja sama. (Yons Achmad)