Analisis Retorika Debat Prabowo

Kolom

Analisis Retorika Debat Prabowo

Oleh: Yons Achmad

(Pengamat media)

Siapa lebih unggul dalam debat perdana  pilpres 2019? Jawabnya tergantung penilaian masing-masing. Pro Jokowi-Makruf akan bilang calonnya yang lebih unggul. Begitu juga pendukung Prabowo-Sandi akan menilai jagoannya paling menguasai panggung. Di sini, saya tak akan berdebat tentang siapa yang lebih unggul diantara keduanya. Tapi, saya akan coba melihat sepintas bagaimana gaya debat Prabowo. Sosok penantang Jokowi di kubu oposisi yang sering luput dari pembahasan dan pemberitaan.

Pada kesempatan ini, saya akan mencoba membaca gaya debat Prabowo lewat 3 aspek penting retorika ala filsuf Yunani, Aristoteles. Pertama, aspek Ethos. Yaitu aspek kepribadian dari sang komunikator.  Hal ini tentu sangat terkait dengan kredibilitas personal sosok yang sedang kita bicarakan. Memang, debat politik selalu menawarkan janji dan solusi. Soal janji, sebenarnya Prabowo lebih bisa leluasa menawarkannya, sebab dia belum berkuasa. Berbeda dengan tawaran janji, politik “akan”“yang ditawarkan oleh petahana. Di kubu petahana, janji bisa menjadi sangat hambar ketika di periode kekuasaannya ternyata banyak janji-janji yang tidak ditepati. Di sini, sebenarnya Prabowo lebih bisa meyakinkan, hanya saja, baru  satu janji konkrit yang ditawarkan, misalnya pembentukan KPK di daerah-daerah sebagai usaha dukung pemberantasan korupsi.  Sementara, tawaran solusi dan janji lainnya masih normatif. Walaupun begitu, karena tak punya beban janji inilah yang kemudian menjadikan Prabowo tampil sangat percaya diri di debat perdana. Termasuk bagaimana membeberkan visi dan misi tanpa teks.

Kedua, Aspek Pathos. Yaitu dimensi yang menyentuh emosi. Prabowo selama ini dipersepsikan sebagai sosok yang emosional. Ya, ketika tidak ada pembandingnya. Tapi, bagaimana dalam debat perdana itu, manakah yang lebih tampak emosional? Saya kira semua tahu jawabnya. Apakah juga ada amarah yang muncul? Seperti kata Aristoteles, amarah bisa dideteksi dengan 3 bentuk, diantaranya menghina dan merendahkan diri (contempt), menghina dengan membuat dongkol (spite) atau menghina dengan mengolok-olok (insolence). Apakah ketiganya dilakukan Prabowo? Saya kira tidak.  Justru, kecenderungan emosional, kepanikan dan amarah tampak pada lawan debatnya. Memang, pada kondisi tertentu, amarah itu diperlukan untuk melawan kezaliman dan keburukan. Dalam posisi demikian saya kira apa yang sering tampak dalam diri Prabowo menemukan relevansinya. Dia sering tampak emosional ketika bicara kezaliman atau kedaulatan. Dan ini bagus saya kira.

Dalam debat perdana itu, saya melihat Prabowo lebih banyak bertahan dan diam. Tidak melakukan penyerangan atau serangan balik. Saya kira, ini kekurangannya, pada debat selanjutnya, Prabowo saya kira harus lebih banyak memberikan serangan mematikan, langsung menukik ke jantung tanpa perlu basa basi. Kenapa? Karena arogansi lawan debat sudah tampak di sesi perdana, dan itu dilakukan oleh petahana. Pepatah Arab mengatakan “At takabburu A’la Al-Mutakabbiri Shadaqah”. Ya, kesombongan terhadap orang sombong adalah sedekah. Kenapa? Sebab melawan kesombongan orang sombong dengan kesombongan lebih tinggi bisa membuat ciut nyali lawan bicara. Teknik ini penting, ibarat ditampar pipi kiri, tak perlu kasih pipi kanan, tapi tampar balik dengan lebih keras. Dengan begitu, ke depan debat bakal menjadi seru. Saya sangat berharap Prabowo pada debat berikutnya tampil demikian, lebih agresif dan menantang.

Ketiga, Aspek Logos. Yaitu argumentasi yang masuk akal. Termasuk fakta-fakta yang mendukungnya. Dalam ilmu retorika, jika Ethos  terkait dengan pembicara dan Pathos lebih berorientasi kepada pendengar atau pemirsa, maka Logos terkait dengan pembicaraan itu sendiri. Sekarang kita lihat, bagaimana pesan pembicaraan atau substansi solutif yang disampaikan Prabowo. Terkait dengan tumpang tindih peraturan, solusi yang ditawarkan adalah partisipasi publik dengan melibatkan ahli dari universitas pusat  dan daerah. Argumentasi yang masuk akal. Memenuhi hak difabel dengan memastikan mereka mendapatkan pekerjaan dan hidup yang layak.  Pemberantasan terorisme, menghapus stigma radikalisme yang selalu dikaitkan dengan umat Islam. Berantas korupsi dengan tambahan anggaran KPK dan dirikan KPK di daerah-daerah. Program deradikalisasi dengan perkuat angkatan perang, polisi dan intelijen untuk mendeteksi terorisme sebelum terjadi. Saya kira, beberapa hal di atas masuk akal.

Yang menjadi masalah kemudian, seperti menyitir Budayawan Sudjiwo Tedjo yang saya dengar dalam diskusi ILC TV One bahwa hari ini, bagi politisi, kata-kata tak lagi terikat dengan perbuatan. Artinya, kata-kata atau janji, bagi seorang politisi tidak lagi harus selalu terwujudkan. Alasannya, kondisi setelahnya tidak memungkinkan. Di sinilah sebetulnya kekuatan Prabowo. Dia sebenarnya, dengan bekal misalnya kliping-kliping di media, bisa membantah dengan telak argumentasi lawan. Janji-janji politik lawan bisa dipatahkan hanya dengan menunjukkan kliping media. Tentu saja, untuk bangun kepercayaan, media yang dikutip juga  harus media yang kredibel.  Jadi, ketika dalam debat ada serangan, contohnya kubu Prabowo, partainya dituding banyak mantan napi koruptor yang jadi caleg. Membantahnya, cukup tunjukkan saja kliping media di mana lawan politiknya di media bilang mantan napi korupsi bisa jadi caleg. Bisa dilihat di Kompas (29/5/18) dengan judul ”Jokowi Tegaskan Mantan Napi Korupsi Punya Hak Jadi Caleg”.  Selesai.

Tapi, kemudian, sejauhmana janji-janji  dan solusi Prabowo ini juga dipercaya publik? Sejarah nanti yang akan membuktikan ketika dia  misalnya kelak  benar-benar jadi presiden. Yang ada kini, debat adalah pertarungan gagasan. Sejauh mana gagasan itu dipahami dan dimengerti publik dan ego publik tersentuh, merasa dirinya diperjuangkan, maka di situlah letak point efektivitasnya.

Secara “akademis” itu gaya debat Prabowo yang bisa digambarkan. Terkait dengan performa debat seperti tegas berbicara, tanpa menggunakan teks (contekan), tak menyaerang sisi personal lawan bicara. Hanya pernak pernik di luar substansi. Walaupun, juga sebuah poin positif dan tak boleh dianggap remeh. Tapi, bagaimanapun juga, yang paling penting dalam debat adalah orisinalitas gagasan yang solutif dan paling masuk akal demi Indonesia ke depan yang lebih baik, bukan gimik atau tampilan luarnya. []