Agar Terhindar Framing Jahat Media (Studi Kasus Demonstrasi Melawan Kecurangan Pemilu)

Kolom

Di dalam studi psikologi, frame diartikan sebagai kepingan-kepingan perilaku (strip of behavior) yang membimbing individu dalam melakukan pembacaan terhadap realitas.

Sementara, dalam kajian ilmu komunikasi, lebih khususnya media, framing diartikan sebagai sebuah gambaran bagaimana aspek-aspek khusus diseleksi dan disorot dalam sebuah realitas media. Dalam arti, bagaimana wartawan menyeleksi isu dalam penulisan berita.  Termasuk bagaimana fakta diambil, apa yang ditonjolkan dan apa yang dihilangkan.

Ketika media melakukan framing. Khususnya dalam berita-berita politik, apa yang semestinya dilakukan publik agar terhindar dari framing media? Agar publik tak menelan mentah-mentah realitas yang digambarkan media. Sebab, dalam media, wartawan tak pernah bisa mengcover keseluruhan fakta, mereka hanya menuliskan sebagian fakta yang terjadi di lapangan. Itu sebabnya, ketangkasan publik dalam membaca media, membaca berita perlu dinyalakan.

Bagaimana caranya? Publik terus berusaha  menjaga akal sehat dan bersikap kritis. Tentu berbasis pengetahuan yang memadai. Kita tak perlu marah-marah dan mencaci maki misalnya media yang sadis dalam melakukan framing dan menjebakkan diri sebagai media partisan politik. Yang kita perlukan, punya kemampuan untuk melihat sisi lain dari sebuah fakta yang ditampilkan media.

Sebagai contoh kasus, kita lihat bagaimana media memandang demonstrasi masyarakat yang menamakan diri Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat. Sebuah demonstrasi  damai yang mencoba bersuara, menyampaikan aspirasi menolak kecurangan pemilu. Kita bisa lihat melalui skema framing dari Robert Entman, salah seorang pengembang studi media.

Pertama, problem identification (peristiwa diihat sebagai apa). Dalam kasus di atas, peristiwanya sebenarnya adalah demonstrasi damai dari Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat yang menolak mecurangan pemilu 2019. Lantas, kenapa banyak media yang malah fokus misalnya pada terjadinya kerusuhan? Dan terus menerus menyoroti kerusuhannya, bukan kepada demonstrasi damainya yang digelar di depan Bawaslu? Di sini media sudah melakukan framing.

Kedua, causal intrepretation (siapa penyebab masalah). Banyak media yang menyalahkan misalnya Prof. Amien Rais  sebagai pemicu kerusuhan karena mencetuskan gerakan People Power yang kemudian diganti dengan Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat. Ada juga yang menyalahkan Prabowo hingga muncul tagar di Twitter #TangkapPrabowo. Menuntut Prabowo bertanggungjawab atas kerusuhan. Ini adalah framing lanjutan.

Ketiga, treatment recommendation (sarana penganggulangan masalah). Di media, khususnya di televisi, dimunculkanlah tokoh-tokoh bijak bestari yang menyerukan persatuan, mendorong elit untuk bertemu. Menyebutkan kalah dalam pemilu itu hal biasa. Sementara, inti masalah, bagaimana publik (demonstran) menginginkan diusut tuntas segala macam kecurangan pemilu jarang diangkat. Di sini, alih-alih bisa memadamkan permasalahan yang sebenarnya, yang terjadi sebenarnya adalah mengaburkan fakta sebenarnya.

Keempat, moral evaluation (penilaian atas penyebab masalah). Secara garis besar, digambarkan bagaimana kelompok demonstran ini sebagai kelompok orang-orang penebar hoaks, kelompok anti NKRI, kelompok yang penuh dengan kebencian, kelompok yang suka melakukan politisasi agama. Itulah standar stigma moral tertentu yang coba digambarkan. Tentu penggambaran demikian serampangan.  Lebih banyak mengandung persepsi dan opini ketimbang fakta.

Masalahnya sekarang bagaimana inisiatif melawan perang framing yang dilakukan media? Tentu, cara-cara beradab yang semestinya dikedepankan. Misalnya dengan melakukan protes dan keberatan kepada redaksi media bersangkutan terhadap isi pemberitaan, menulis surat pembaca, menggunakan hak jawab, mengadu kepada Dewan Pers atau Komisi Penyiaran Indonesia.  Sampai, membuat gerakan-gerakan percerdasan publik lewat literasi media.

Ini beberapa cara yang perlu dilakukan. Bukan misalnya melakukan persekusi terhadap wartawan yang bertugas di lapangan. Bagaimanapun juga, mereka sedang menjalankan profesi, kita mesti hargai sebagai bentuk penghormatan kepada profesi seseorang. Demikian akal sehat kita jalankan. []

Salam
Yons Achmad
Praktisi Komunikasi Strategis
Pendiri Kanetindonesia.com
WA: 082123147969