5 Cara Mendapatkan Uang dari Bisnis Media Online

kolom

logo wasathon besarSaya dan tim pernah mengadakan seminar tentang prospek bisnis media online. Salah satu narasumber yang kami hadirkan adalah Dr Satrio Aris Munadar, seorang redaktur media online, penulis dan juga dosen Jurusan Ilmu Komunikasi. Dari makalah yang ditampilkan, ada persoalan menarik yang perlu diketahui oleh para pebisnis dan pengelola media online yaitu bagaimana cara mendapatkan uang dari bisnis media online. Nah, diantara beberapa cara tersebut, Anda bisa mencoba salah satunya:
1. Display Ad

Display ad adalah model bisnis yang paling banyak digunakan. Sebagian besar media online di Indonesia menggunakan medium ini untuk menghasilkan pendapatan. Namun, display ad sebaiknya tidak menjadi model bisnis utama, mengingat pengiklan cenderung hanya mau beriklan dengan model seperti ini jika traffic website media online tersebut dianggap sudah memadai. Sedangkan kita tahu, sebagian besar media Islam online belum punya traffic yang memadai.

Sementara membangun traffic website yang memadai untuk mendapatkan iklan, memerlukan waktu lama dan panjang. Google Adsense termasuk dalam model bisnis ini, walau seringkali pendapatan yang dihasilkan tidak sebesar display ad. Model bisnis display ad bisa berbentuk banner dengan ukuran tertentu yang dipasang pada tampilan website, atau bisa juga berupa mobile ad jika media online tersebut sudah memiliki aplikasi mobile-nya. Hampir semua media online di Indonesia menerapkan model bisnis display ad.

2. Content Creation

Jika kita ingin memfasilitasi produk atau brand dengan iklan dalam bentuk lain yang lebih variatif, model bisnis penciptaan konten (content creation) bisa menjadi pilihan. Melalui model bisnis ini, pesan-pesan sponsor yang bersifat iklan bisa disampaikan dengan halus, melalui konten-konten yang disajikan dalam bentuk tulisan maupun audio visual (dengan gambar bergerak dan suara). Jenis kontennya sendiri bisa beragam antara lain, seperti posting yang bersponsor (sponsored post), konten berbasis video (video based content), newsletter, dan content marketing.

3. Community Engagement

Jika sebuah media online sudah memiliki komunitas dengan basis pengguna (user) atau pembaca (reader) yang solid, model bisnis pelibatan/pemberdayaan komunitas (community engagement) bisa diterapkan. Pada model bisnis ini pihak pengiklan mendanai kegiatan online maupun offline dari komunitas yang dimiliki sebuah media online tertentu, baik berbentuk event sponsorship, forum sponsorhip, dan/atau online activation. Dengan model bisnis community engagement, pesan-pesan berkonotasi iklan bisa disampaikan melalui spanduk, poster, atau material cetak lain yang menampilkan logo dan/atau slogan pengiklan tersebut.

4. Community Insight

Model bisnis wawasan komunitas (community insight) mirip dengan poin sebelumnya, yang memberdayakan komunitas dari sebuah media online tertentu. Tetapi, pada model bisnis ini produk atau brand tertentu menjadikan komunitas dari sebuah media online lebih sebagai obyek riset, yang disebut riset merek dan pesaing (brand and competitor research), dan/atau obyek survey yang disebut survei konsumen (consumer survey).

Untuk beberapa kebutuhan marketing tertentu, beberapa anggota komunitas juga dikumpulkan secara offline untuk riset atau survei yang lebih terfokus dengan konsep focus group discussion (FGD).
Namun, jika kita ingin menerapkan model bisnis community engagement dan community insight, perlu waktu yang lama dan panjang untuk membangun komunitas, yang diawali dengan membangun traffic yang memadai terlebih dahulu.

5. Premium Content Subscription

Model bisnis ini jarang diterapkan pada bisnis media online di Indonesia. Hal itu karena model bisnis langganan konten premium (premium content subscription) mengenakan biaya kepada user atau reader, jika mereka ingin membaca sebuah konten tertentu dari sebuah media online.
Sementara karakter konsumen Indonesia relatif lebih menyukai hal-hal yang bersifat gratis. Khalayak yang bersedia membayar untuk sebuah informasi online sangat terbatas jumlahnya, sedangkan konten itu juga harus punya nilai yang amat penting dan eksklusif, agar orang bersedia membayar untuk mengaksesnya. (Yons Achmad/  CEO Kanet Indonesia)